Kedudukan Alam Semesta dan Manusia dalam Filsafat Islam  

Posted by Muslih Sumantri in

Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain AllahSWT.[1]
Oleh karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputisegala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Secara umum, alam itu bisadibedakan kedalam dua jenis, yaitu alam syahadah dan alam ghaib. Alam syahadahadalah wujud yang konkrit dan dapat diinderakan, dimana alam syahadah tunduk kepada hukum evolusi, yang berkembang dan berubah-ubah. Sedangkan alam ghaibadalah wujud yang tidak dapat diinderakan.
a.

Proses Penciptaan Alam Semesta
Terdapat perbedaan pandangan dikalangan umat muslim, tentang asal mula penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakandari tiada menjadi ada, sementara pendapat lain mengemukakan bahwa alam semestadiciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada.Pendapat yang pertama, selalu didasarkan pada kata khalaqa, yang digunakandalam penciptaan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa penggunaan katakhalaqa memiliki arti penciptaan sesuatu dari bahan yang belum ada menjadi ada.Sementara itu, Pendapat kedua didasarkan pada informasi Alquran yangmengindikasikan bahwa alam semesta ini diciptakan dari materi yang sudah ada.Informasi seperti ini diantaranya ditemukan dalam dua surah, yaitu QS Fushilat (41 :11) yang menyatakan bahwa Allah swt menuju langit, sedangkan langit ketika itumasih berupa dukhan ( asap ). Surat yang kedua, QS Al-Anbiyya ( 21 : 30 ), yangmenginformasikan bahwa langit dan bumi itu, dahulunya adalah sesuatu yang padu,lalu Allah memisahkan keduanya.Pandangan kedua ini memiliki kesamaan degan penelitian yang di lakukan para pakar astronomi dan astro fisika yang menyimpulkan bahwa keseluruhan alamsemesta ini pada awalnya satu masa yang besar.kemudian terjadi pemisahan,




  sehingga terbentuk galaksi. Galaksi tersebut kemudian terbagi-bagi dalam bentuk  bintang-bintang, planet-planet, matahari,bulan dan lain-lain.[2]
 Dalam konteks proses penciptaan alam semesta, Al-farabi berpendapat bahwaalam semesta ini trejadi karena limpahan dari yang Esa. Wujud Tuhanlah yangmelimpahkan wujud alam semesta. Terlepas dari perbedaan pandangan diatas,Alquran menginformasikan bahwa alam semesta ini diciptakan tuhan tidak secarasekaligus, tetapi melalui serangkaian tahapan, masa, atau proses. Dalam sejumlahsurah Alquran selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang biasa diterjemakandalam arti enam hari, enam masa, atau mungkin enam priode. Selain itu, dalamAlquran ditemukan pula ayat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan bumidalam dua hari atau dua masa, dan menentukan kadar makanan penghuninya (rezeki)dalam empat hari, dan menjadikan tujuh langit dalam dua hari.[3]
  
Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Allah menegaskan bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan apa yangada diantara keduanya secara main-main, kecuali dengan al-haq.[4]
Itu berarti bahwatidak ada ciptaan Allah, sekecil apapun ciptaan itu, yang tidak memiliki arti danmakna, apa lagi alam semesta yang terbentang luas ini.Dalam persfektif islam, tujuan penciptaan alam semesta ini pada dasarnyaadalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktiantentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah.[5]
Secara ontologis, adanya alamsemesta ini mewajibkan adanya zat yang mewujudkanya. Keberadaan langit dan bumimewajibkan adanya sang pencipta yang menciptakan keduanya. Keberadaan alamsemesta merupakan petunjuk yang sangat jelas, tentang adanya keberadaan Allahsebagai Tuhan maha pencipta. Karenanya, dengan mempelajari alam semesta

 
manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah adalah zat yang menciptakanAlam semesta.Alquran secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan Alam semestaadalah untuk memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda keberadaan kekuasaanAllah. Disampig sebagai sarana untuk menghantarkan manusia akan keberadaan dankeMaha kekuasaan Allah, dalam presfektif islam, alam semesta beserta segala sesuatuyang berada didalamnya diciptakan untuk manusia.[6]
Dan fungsi konkret alam semestaadalah fungsi rubbubiyah yang diciptakan Allah kepada manusia, sehingga alam iniakan marah manakala manusia bertindak serakah dan tidak bertanggung jawab.[7]

Kedudukan Alam Semesta
Allah sebagai pencipta, pemilik kasih dan sayang untuk segenap makhluk- Nya alam ini sebagai bukti dari kasih sayang Allah untuk manusia. Karna alamsemesta diciptakan untuk manusia, maka Allah telah menundukkan bagi merekauntuk kepentingan manusia. Allah menundukan apa yang ada dilangit dan bumi.Dialah yang memudahkan alam ini bagi manusia dan menjadikannya sebagai tempattinggal yang enak untuk didiami.[8]
Agar manusia mudah memahami alam semesta,maka Allah menciptakan ukuran atau ketentuan yang pasti ( sunnah Allah). Padaalam semesta, sehingga ia bersifat fredichtable. Kemudian, agar manusia mudahmemahami dan berinteraksi dengan alam semesta ini, maka Allah menciptakandengan derajat yang lebih rendah dibanding manusia. Untuk itu, manusia tidak bolehtunduk kepada alam semesta, tetapi harus tunduk kepada Allah, Tuhan yang telahmenciptakan dan menundukan alam ini buat mereka.Meskipun alam semesta ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berartimanusia dapat berbuat sekendak hati didalamnya. Hal ini bermakna bahwakekuasaan manusia pada alam semesta ini bersifat terbatas. Manusia hanya bolehmengolah dan memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan iradah atau keinginan
Tuhan yang telah mengamanahkan alam semesta ini kepada manusia. Memang,sebagai khalifah Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengatur  bumi dan segala isinya. Demikianpun, kekuasaan seorang khalifah tidaklah bersifatmutlak, sebab kekuasaannya dibatasi oleh pemberi amanah kekhalifahan itu, yakniAllah.[9]
 Dalam persepektif pendidikan Islam, alam adalah guru manusia. Kita semuawajib belajar dari sikap alam semesta yang tunduk mutlak pada hukum-hukum yangtelah ditetapkan Allah. Tidak terbayangkan oleh kita semua manakala alam berprilaku diluar hukum-hukum Allah, alam melanggar sunahnya. misalnya Gunungmeletus menyemburkan api, matahari terbit dan turun ke bumi, bintang-bintang berjatuhan, pohon-pohon tumbang, lautan meluap, ombak menghantam, terjadi badai, dan bumi berhenti berputar. Pelajaran apa yang dapat diambil dari kejadiandemikian ?Demikian pula, manusia yang tidak mau belajar dari konsistensi kehidupanalam, sifatnya berubah bagaikan binatang, saling menipu dan lain lain. Rusaknyakehidupan alam disebabkan oleh prilaku manusia yang tidak mau belajar dari alamsemesta. Alam semesta ini dapat dijadikan guru yang bijaksana. Belajar dari alamsemesta adalah tujuan hidup manusia dan secara filosofis, dimana kedudukan alamsemesta bagaikan guru dengan muridnya.Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedudukan alam semesta dalam perspektif filsafat pendidikan islam adalah sebagai guru yang mengajar kepada manusia untuk  bertindak sesuai dengan hukum yang telah digariskan Tuhan.

Manusia menurut perspektif Alquran
Di dalam Alquran disebutkan bahwa manusia sebagai umat, diciptakan daridiri yang satu dan pasangannya, kemudian dari keduanya berkembang biaklah anak keturunannya. Di dalam Alquran, terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada katamanusia, antara lain :
   
a.Al-nash.
Dalam Alquran, Al-nash tidak pernah digunakan untuk pengertian manusiasecara fisik. Kata al-nash di dalam Alquran disebutkan sebanyak 240 kali adalahsebagai nama jenis untuk keturunan adam. 
b.Al-Basyar 
Al-basyar berarti kulit yang tampak. Dalam Alquran, kata ini munculsebanyak 35 kali. Kata al-basyar selalu dihadirkan Alquran dalam arti fisik biologismanusia yang tampak jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai ungkapanAlquran yang konteksnya selalu merujuk kepada manusia sebagai makhluk biologis.
c.Bani Adam
Bani adam bisa dimaknai sebagai generasi yang dibangun, diturunkan, ataudikembangkan dari adam. Dalam Alquran, kata-kata bani adam selalu merujuk padakonsep kesamaan kemanusiaan, yaitu sama-sama keturunan nabi adam dan sama-sama memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama.


Proses Penciptaan  manusia
Bila diteliti secara cermat, dalam Alquran akan ditemukan informasi, bahwaada dua macam proses penciptaan manusia, yaitu :
1.Penciptaan secara primordial, yaitu berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yaitu adam.
2.Proses penciptaan seluruh manusia atau generasi yang diturunkan dariadam.[10]
 Dari dua macam proses penciptaan manusia diatas, ini menunjukkan bahwamanusia pertama, yaitu adam tercipta dari tanah. Dimana Alquran tidak menguraikannya secara rinci, tentang bagaimana proses penciptaan adam. Adapunketurunan adam, tercipta melalui proses pertemuan benih laki-laki dengan sel telur wanita, melalui pancaran sperma, kemudian bertemu dengan sel telur, akhirnyaterjadilah pembuahan. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari inti sari patitanah yang ditransformasi menjadi air mani, kemudian disimpan dalam tempat yang kokoh, yaitu rahim ibu. Setelah melalui proses pembuahan, air mani tersebutselanjutnya berproses menjadi darah beku, dan kemudian berproses menjadisegumpal daging, yang kemudian dibalut dengan tulang belulang dan akhirnya Allahmenjadikannya sebagai makhluk yang berbentuk.[11]
Kepada makhluk yang berbentuk inilah, kemudian allah meniupka ruh.[12]
Setelah ditiupkan kedalam jasad, Allahmemerintahkan para malaikat untuk sujud memberikan penghormatan.[13]
  
Kedudukan Manusia
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sejumlahkeistimewaan bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Secara umum,keistimewaan tersebut, yaitu :
a.Bentuk fisik yang terbaik 
b.Fakultas psikhis
c.Fitrah
Dalam konteks yang lebih luas , Alquran mengemukakan sejumlah potensiyang dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain :
a.Potensi naluriah 
b.Potensi inderawi
c.Potensi menalar 
d.Potensi beragama
Allah menciptakan manusia, tentunya memiliki tujuan, dimana tujuannyayaitu untuk mengenal Tuhannya. Sedangkan fungsi penciptaan manusia adalahsebagai makhluk ibadah yang diperintahkan untuk mengabdi atau menghambakan dirisecara kontinu dengan tulus dan ikhlas hanya kepada Allah semata. Selanjutnya,dalam konteks tugas dari penciptaan manusia dalam perspektif filsafat pendidikanislam, manusia adalah khalifah Allah yang diberi tugas sebagai pemimpin sertamemakmurkan kehidupan dibumi. Alquran menjelaskan bahwa bumi beserta isinya yang diciptakan oleh Allah adalah untuk kepentingan manusia, oleh karena itumerupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkanseluruh sumber yang tersedia di alam untuk memenuhi keperluan hidupnya. Namunsemua itu harus didasarkan pada ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Untuk dapatmengelola bumi beserta isinya manusia telah memilki potensi yang diberikan Allahkepadanya, potensi inilah yang membuat manusia layak menjadi khalifah.
 
3

BAB IIPEMBAHASANLANDASAN ONTOLOGIS FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMA.

Pengertian Ontologis dalam Filsafat Pendidikan Islam
Ontologi dalam bahasa inggris ³ontology´; berasal dari bahasa Yunani, yaituontos (ada, keberadaan) dan logos (studi, ilmu tentang). Dari pengertian tersebut bisadisimpulkan bahwa ontologi mengandung pengertian ³pengetahuan tentang yangada´. Ontologi menyangkut teori tentang ada ( being ), sebagai objek sains. Di dalamontologi, diupayakan penjelasan mengenai sifat-sifat objek dan hubungannya dengansubjek. Dimana ada beberapa pertanyaan pokok yang diajukan untuk memahamiontologi, yaitu :a.

Objek apa yang ditelaah b.

Bagaimana bentuk yang hakiki dari sebuah objek c.

Bagaimana hubungan antara objek dengan daya tangkap manusia (berfikir,merasa, dan mengindera ) yang nantinya membuahkan pengetahuan.
1
 Ontologi merupakan salah satu objek garapan filsafat ilmu tentang hakikatrealitas yang ada, baik berupa wujud fisik maupun metafisik.
2
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian ontologi dalam filsafat pendidikan islam adalah menjelaskan apahakikat dan sumber dan seluk beluk dari pendidikan islam yang bersumber dariAlquran dan Hadist. Yang mana di dalamnya mencakup1.

hakikat para pendidik dan peserta didik,2.

hakikat materi pendidikan,3.

hakikat metode penyampaian,4.

hakikat tujuan pendidikan5.

hakikat system pendidikan, dll.
3

1
Syafaruddin,
Filsafat Ilmu
( Bandung : Cita Pustaka media Perintis,
2008
) h. 59
2
Hadi Masruri dan Imran Rossidi,
Filsafat Sains dalam Alquran
( Malang : UIN Malang Press,
2007
)h.
8
9
3
Hasan Basri,
Filsafat pendidikan Islam
( Bandung : Pustaka setia,
200
9 ) h. 15 - 1
8

http://htmlimg4.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/3-47a16f15e7.jpg
 
4

B.

Kedudukan Alam Semesta dan Manusia dalam Filsafat Pendidikan Islam
Dalam perspektif Islam, alam semesta adalah segala sesuatu selain AllahSWT.
4
Oleh karenanya, alam semesta bukan hanya langit dan bumi, tetapi meliputisegala sesuatu yang ada dan berada diantara keduanya. Secara umum, alam itu bisadibedakan kedalam dua jenis, yaitu alam syahadah dan alam ghaib. Alam syahadahadalah wujud yang konkrit dan dapat diinderakan, dimana alam syahadah tunduk kepada hukum evolusi, yang berkembang dan berubah-ubah. Sedangkan alam ghaibadalah wujud yang tidak dapat diinderakan.
a.

Proses Penciptaan Alam Semesta
Terdapat perbedaan pandangan dikalangan umat muslim, tentang asal mula penciptaan alam semesta. Ada yang menyatakan bahwa alam semesta ini diciptakandari tiada menjadi ada, sementara pendapat lain mengemukakan bahwa alam semestadiciptakan dari materi atau sesuatu yang sudah ada.Pendapat yang pertama, selalu didasarkan pada kata khalaqa, yang digunakandalam penciptaan alam semesta. Mereka berpendapat bahwa penggunaan katakhalaqa memiliki arti penciptaan sesuatu dari bahan yang belum ada menjadi ada.Sementara itu, Pendapat kedua didasarkan pada informasi Alquran yangmengindikasikan bahwa alam semesta ini diciptakan dari materi yang sudah ada.Informasi seperti ini diantaranya ditemukan dalam dua surah, yaitu QS Fushilat (41 :11) yang menyatakan bahwa Allah swt menuju langit, sedangkan langit ketika itumasih berupa dukhan ( asap ). Surat yang kedua, QS Al-Anbiyya ( 21 : 30 ), yangmenginformasikan bahwa langit dan bumi itu, dahulunya adalah sesuatu yang padu,lalu Allah memisahkan keduanya.Pandangan kedua ini memiliki kesamaan degan penelitian yang di lakukan para pakar astronomi dan astro fisika yang menyimpulkan bahwa keseluruhan alamsemesta ini pada awalnya satu masa yang besar.kemudian terjadi pemisahan,
4
Omar Mohd. Al-Thoumiy al-saibani,
Filsafat Pendidikan Islam
( Jakarta : Bulan Bintang, 19
7
9 ) h. 5
8

http://htmlimg4.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/4-0561fedf0e.jpg
 
5
sehingga terbentuk galaksi. Galaksi tersebut kemudian terbagi-bagi dalam bentuk  bintang-bintang, planet-planet, matahari,bulan dan lain-lain.
5
 Dalam konteks proses penciptaan alam semesta, Al-farabi berpendapat bahwaalam semesta ini trejadi karena limpahan dari yang Esa. Wujud Tuhanlah yangmelimpahkan wujud alam semesta. Terlepas dari perbedaan pandangan diatas,Alquran menginformasikan bahwa alam semesta ini diciptakan tuhan tidak secarasekaligus, tetapi melalui serangkaian tahapan, masa, atau proses. Dalam sejumlahsurah Alquran selalu menggunakan istilah fi sittah ayyam, yang biasa diterjemakandalam arti enam hari, enam masa, atau mungkin enam priode. Selain itu, dalamAlquran ditemukan pula ayat yang menyatakan bahwa Allah menciptakan bumidalam dua hari atau dua masa, dan menentukan kadar makanan penghuninya (rezeki)dalam empat hari, dan menjadikan tujuh langit dalam dua hari.
6

b
.

Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Allah menegaskan bahwa Dia tidak menciptakan langit, bumi dan apa yangada diantara keduanya secara main-main, kecuali dengan al-haq.
7
Itu berarti bahwatidak ada ciptaan Allah, sekecil apapun ciptaan itu, yang tidak memiliki arti danmakna, apa lagi alam semesta yang terbentang luas ini.Dalam persfektif islam, tujuan penciptaan alam semesta ini pada dasarnyaadalah sarana untuk menghantarkan manusia pada pengetahuan dan pembuktiantentang keberadaan dan kemahakuasaan Allah.
8
Secara ontologis, adanya alamsemesta ini mewajibkan adanya zat yang mewujudkanya. Keberadaan langit dan bumimewajibkan adanya sang pencipta yang menciptakan keduanya. Keberadaan alamsemesta merupakan petunjuk yang sangat jelas, tentang adanya keberadaan Allahsebagai Tuhan maha pencipta. Karenanya, dengan mempelajari alam semesta,
5
Zair Naik dan Gary Miller,
eajiban Al-quran Dalam Telaah Sains Modern
(Yogyakarta: Media Ilmu,
2008
),h.55-56ara
6
Lihat Q.S,Fushshilat (
4
1):9-1
0
, dan 11-1
2

7
Lihat Q.S, Al-Dukhan (
44
):
38
-
3
9
8
Effat Asy-Syarqawi ,
Filsafat 
ebudayaan Islam ( 
Bandung;pustaka,19
8
5) h.
222
.
http://htmlimg4.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/5-8b8cb0c8eb.jpg
 
6
manusia akan sampai pada pengetahuan bahwa Allah adalah zat yang menciptakanAlam semesta.Alquran secara tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan Alam semestaadalah untuk memperlihatkan kepada manusia tanda-tanda keberadaan kekuasaanAllah. Disampig sebagai sarana untuk menghantarkan manusia akan keberadaan dankeMaha kekuasaan Allah, dalam presfektif islam, alam semesta beserta segala sesuatuyang berada didalamnya diciptakan untuk manusia.
9
Dan fungsi konkret alam semestaadalah fungsi rubbubiyah yang diciptakan Allah kepada manusia, sehingga alam iniakan marah manakala manusia bertindak serakah dan tidak bertanggung jawab.
10

c.

Kedudukan Alam Semesta
Allah sebagai pencipta, pemilik kasih dan sayang untuk segenap makhluk- Nya alam ini sebagai bukti dari kasih sayang Allah untuk manusia. Karna alamsemesta diciptakan untuk manusia, maka Allah telah menundukkan bagi merekauntuk kepentingan manusia. Allah menundukan apa yang ada dilangit dan bumi.Dialah yang memudahkan alam ini bagi manusia dan menjadikannya sebagai tempattinggal yang enak untuk didiami.
11
Agar manusia mudah memahami alam semesta,maka Allah menciptakan ukuran atau ketentuan yang pasti ( sunnah Allah). Padaalam semesta, sehingga ia bersifat fredichtable. Kemudian, agar manusia mudahmemahami dan berinteraksi dengan alam semesta ini, maka Allah menciptakandengan derajat yang lebih rendah dibanding manusia. Untuk itu, manusia tidak bolehtunduk kepada alam semesta, tetapi harus tunduk kepada Allah, Tuhan yang telahmenciptakan dan menundukan alam ini buat mereka.Meskipun alam semesta ini diciptakan untuk manusia, namun bukan berartimanusia dapat berbuat sekendak hati didalamnya. Hal ini bermakna bahwakekuasaan manusia pada alam semesta ini bersifat terbatas. Manusia hanya bolehmengolah dan memanfaatkan alam semesta ini sesuai dengan iradah atau keinginan
9
Al Rasyidin,
Falsafah Pendidikan IslamI
(Bandunng: ciptapustaka media perintis,
2008
), h.
8
-9
1
0
Hasan Basri,
Filsafat pendidikan Islam
( Bandung : Pustaka setia,
200
9 ) h.
2
1 -
2
5
11
Lihat Q.S, Al-nahl (16):
80
-
8
1
http://htmlimg3.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/6-6d20be72ab.jpg
 
7

Tuhan yang telah mengamanahkan alam semesta ini kepada manusia. Memang,sebagai khalifah Allah telah memberikan mandat kepada manusia untuk mengatur  bumi dan segala isinya. Demikianpun, kekuasaan seorang khalifah tidaklah bersifatmutlak, sebab kekuasaannya dibatasi oleh pemberi amanah kekhalifahan itu, yakniAllah.
12
 Dalam persepektif pendidikan Islam, alam adalah guru manusia. Kita semuawajib belajar dari sikap alam semesta yang tunduk mutlak pada hukum-hukum yangtelah ditetapkan Allah. Tidak terbayangkan oleh kita semua manakala alam berprilaku diluar hukum-hukum Allah, alam melanggar sunahnya. misalnya Gunungmeletus menyemburkan api, matahari terbit dan turun ke bumi, bintang-bintang berjatuhan, pohon-pohon tumbang, lautan meluap, ombak menghantam, terjadi badai, dan bumi berhenti berputar. Pelajaran apa yang dapat diambil dari kejadiandemikian ?Demikian pula, manusia yang tidak mau belajar dari konsistensi kehidupanalam, sifatnya berubah bagaikan binatang, saling menipu dan lain lain. Rusaknyakehidupan alam disebabkan oleh prilaku manusia yang tidak mau belajar dari alamsemesta. Alam semesta ini dapat dijadikan guru yang bijaksana. Belajar dari alamsemesta adalah tujuan hidup manusia dan secara filosofis, dimana kedudukan alamsemesta bagaikan guru dengan muridnya.Jadi, dapat disimpulkan bahwa kedudukan alam semesta dalam perspektif filsafat pendidikan islam adalah sebagai guru yang mengajar kepada manusia untuk  bertindak sesuai dengan hukum yang telah digariskan Tuhan.
d.

Manusia menurut perspektif Alquran
Di dalam Alquran disebutkan bahwa manusia sebagai umat, diciptakan daridiri yang satu dan pasangannya, kemudian dari keduanya berkembang biaklah anak keturunannya. Di dalam Alquran, terdapat beberapa istilah yang merujuk kepada katamanusia, antara lain :
1
2
Ahmad Azhar Basyir,
R
efleksi Atas Persoalan
eislaman
(Bandung: Mizan,199
4
), h.
4
8

http://htmlimg1.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/7-5c0096262c.jpg
 
8

a.

Al-nash.Dalam Alquran, Al-nash tidak pernah digunakan untuk pengertian manusiasecara fisik. Kata al-nash di dalam Alquran disebutkan sebanyak 240 kali adalahsebagai nama jenis untuk keturunan adam. b.

Al-Basyar Al-basyar berarti kulit yang tampak. Dalam Alquran, kata ini munculsebanyak 35 kali. Kata al-basyar selalu dihadirkan Alquran dalam arti fisik biologismanusia yang tampak jelas. Hal tersebut dapat dilihat dari berbagai ungkapanAlquran yang konteksnya selalu merujuk kepada manusia sebagai makhluk biologis.c.

Bani AdamBani adam bisa dimaknai sebagai generasi yang dibangun, diturunkan, ataudikembangkan dari adam. Dalam Alquran, kata-kata bani adam selalu merujuk padakonsep kesamaan kemanusiaan, yaitu sama-sama keturunan nabi adam dan sama-sama memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama.
e.

Proses Penciptaan manusia
Bila diteliti secara cermat, dalam Alquran akan ditemukan informasi, bahwaada dua macam proses penciptaan manusia, yaitu :1.

Penciptaan secara primordial, yaitu berkaitan dengan penciptaan manusia pertama, yaitu adam.2.

Proses penciptaan seluruh manusia atau generasi yang diturunkan dariadam.
13
 Dari dua macam proses penciptaan manusia diatas, ini menunjukkan bahwamanusia pertama, yaitu adam tercipta dari tanah. Dimana Alquran tidak menguraikannya secara rinci, tentang bagaimana proses penciptaan adam. Adapunketurunan adam, tercipta melalui proses pertemuan benih laki-laki dengan sel telur wanita, melalui pancaran sperma, kemudian bertemu dengan sel telur, akhirnyaterjadilah pembuahan. Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari inti sari patitanah yang ditransformasi menjadi air mani, kemudian disimpan dalam tempat yang
1
3
Al-rasyidin,
Filsafat Pendidikan Islami.
H. 19
http://htmlimg4.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/8-101ef3ac60.jpg
 
9
kokoh, yaitu rahim ibu. Setelah melalui proses pembuahan, air mani tersebutselanjutnya berproses menjadi darah beku, dan kemudian berproses menjadisegumpal daging, yang kemudian dibalut dengan tulang belulang dan akhirnya Allahmenjadikannya sebagai makhluk yang berbentuk.
14
Kepada makhluk yang berbentuk inilah, kemudian allah meniupka ruh.
15
Setelah ditiupkan kedalam jasad, Allahmemerintahkan para malaikat untuk sujud memberikan penghormatan.
16

f.

Kedudukan Manusia
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang memiliki sejumlahkeistimewaan bila dibandingkan dengan makhluk yang lainnya. Secara umum,keistimewaan tersebut, yaitu :a.

Bentuk fisik yang terbaik  b.

Fakultas psikhisc.

FitrahDalam konteks yang lebih luas , Alquran mengemukakan sejumlah potensiyang dianugerahkan Allah kepada manusia, antara lain :a.

Potensi naluriah b.

Potensi inderawic.

Potensi menalar d.

Potensi beragamaAllah menciptakan manusia, tentunya memiliki tujuan, dimana tujuannyayaitu untuk mengenal Tuhannya. Sedangkan fungsi penciptaan manusia adalahsebagai makhluk ibadah yang diperintahkan untuk mengabdi atau menghambakan dirisecara kontinu dengan tulus dan ikhlas hanya kepada Allah semata. Selanjutnya,dalam konteks tugas dari penciptaan manusia dalam perspektif filsafat pendidikanislam, manusia adalah khalifah Allah yang diberi tugas sebagai pemimpin sertamemakmurkan kehidupan dibumi. Alquran menjelaskan bahwa bumi beserta isinya
1
4
Lihat QS Al-Mukminun (
23
) : 1
2
- 1
4

15
Lihat QS Al-Hijr ( 15 ) :
2
9 dan QS Shad (
38
) :
72

16
Lihat kembali QS Al-Hijr (15) :
28
-
2
9 dan QS Shad (
38
) :
7
1-
72

http://htmlimg4.scribdassets.com/80bid4l5fk1bxfbk/images/9-893ba4f91b.jpg



[1] Omar Mohd. Al-Thoumiy al-saibani,Filsafat Pendidikan Islam
( Jakarta : Bulan Bintang, 1979 ) h. 58

[2] Zair Naik dan Gary Miller,K eajiban Al-quran Dalam Telaah Sains Modern(Yogyakarta: Media Ilmu,2008),h.55-56ara

[3] Lihat Q.S,Fushshilat (41):9-10 dan 11-12
[4] Lihat Q.S, Al-Dukhan (44):38-39

[5] Effat Asy-Syarqawi ,Filsafat K ebudayaan Islam (Bandung;pustaka,1985) h.222

[6] Al Rasyidin,Falsafah Pendidikan IslamI(Bandunng: ciptapustaka media perintis,2008), h.8-9

[7] Hasan Basri,Filsafat pendidikan Islam( Bandung : Pustaka setia,2009 ) h.21 -25

[8] Lihat Q.S, Al-nahl (16):80-81

[9] Ahmad Azhar Basyir,Refleksi Atas PersoalanK eislaman(Bandung: Mizan,1994), h.48

[10] Al-rasyidin,Filsafat Pendidikan Islami.H. 19
[11] Lihat QS Al-Mukminun (23) : 12- 14

[12] Lihat QS Al-Hijr ( 15 ) :29 dan QS Shad (38) :72
[13] Lihat kembali QS Al-Hijr (15) :28-29 dan QS Shad (38) :71-72

This entry was posted on Selasa, Oktober 16, 2012 at 5:29 AM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

1 comments

Anonim  

kutunggu postingannya mas..

16 Oktober 2012 05.31

Poskan Komentar