Posted by MUSLIH SUMANTRI in

Waspadai Munculnya Radikalisme dan Fundamentalisme Islam
BAJU radikalisme dan fundamentalisme yang dipakai atas nama Islam oleh kelompok tertentu menjadi ‘boomerang’ bagi umat Islam sendiri. Di Indonesia, kedua aliran itu telah menggejala baik secara terang-terangan maupun tersembunyi. Fenomena demikian menyebabkan kekhawatiran berbagai kalangan masyarakat, sebab alur pemikiran semacam itu telah merasuki anak-anak, pelajar dan mahasiswa.
Sejumlah ulama dan kiai Nahdlatul Ulama pantas saja mengkhawatirkan fenomena itu, meskipun sebenarnya radikalisme dan fundamentalisme beragama tak hanya berlaku bagi agama Islam. Tapi untuk merespons dan mengantisipasi gejala yang berkembang, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, perlu menggelar bahtsul masail diniyyah yang diadakan di Ponpes Al-Qur’aniyy Azzayadiyy, Solo, belum lama. Diantaranya, fenomena radikalisme dan fundamentalisme dengan baju agama yang dinilai paling krusial.
Kalaupun secara luas telah diketahui, bahwa NU memang bukan organisasi muslim yang mendasarkan pemahaman keagamaan pada pandangan yang radikal maupun fundamentalisme. Namun demikian para ulama NU merasa perlu untuk membahasnya dan merumuskan pemikirannya agar dapat dijadikan acuan bagi umat. Rencananya, keputusan itu akan diusulkan untuk dibahas di forum Munas NU.
Jika kembali membaca sejarah Indonesia, sejak tahun 1940-an sampai 1950-an, memang sudah ada persaingan antara kalangan Islamis dengan kalangan demokratis. Menurut Greg Barton gejala ini bukan sesuatu yang baru, dan tidak mungkin dihilangkan dengan sendirinya.
Jamaah Islamiyah misalnya, disebut sebagai sayap yang paling radikal dari yang ada saat ini, juga memiliki hubungan dengan gerakan lama lewat jalur keluarga dan sebagainya. Adapun faktor kultural ternyata juga ikut menentukan, sebagai contoh peristiwa yang terjadi pada diri Gus Dur di Purwakarta, dapat diketahui bahwa kawasan itu memang cenderung lebih konservatif dan radikal dalam ekspresi beragamanya.
Sementara gagasan Islam yang radikal, dalam konteks global baru muncul sejak tahun 1940-an lewat buku-buku al-Maududi, Hasan al-Banna, Sayyid Qutb, ditambah lagi dengan ide-ide Wahabisme yang sudah lama. Sedangkan pengaruh Islam di tingkat global dan ide-ide Islam modern, muncul sekitar abad ke 20-an . Jadi radikalisme harus dilihat juga dalam konteks dunia modern. Begitu pula, faktor politik dan environment atau lingkungan global sangat menentukan, karena isu-isu dan kondisi umat Islam di berbagai tempat, memang jauh lebih gampang menyentuh hatinya.
Iran dan Mesir sebagai dua negara yang dianggap paling inspiratif dalam melahirkan Islam radikal di negara-negara lain. Fenomena revolusi Islam Iran 1979 dianggap banyak pengamat sebagai salah satu bentuk radikalisme Islam yang kemudian mengilhami kaum Muslim di banyak negara melakukan hal serupa. Sementara itu, di Mesir lahirnya al-Ikhwan al-Muslimun yang dibidani oleh Syaikh Hasan Al-Banna (1906-1949) pada April 1928 mengalami perkembangan pesat yang ditandai oleh tersebarnya organisasi ini di kurang lebih 70 negara, tidak hanya di Timur Tengah tapi juga di wilayah lain.
Pengaruh keagamaan dan politik dari Timur Tengah ke Indonesia bukan hal baru dalam sejarah. Semenjak Islam masuk ke Nusantara, hubungan masyarakat Indonesia dengan Timur Tengah sangat kental. Dalam konteks keagamaan, pengetahuan, dan politik, transmisi ini dimungkinkan karena posisi Timur Tengah sebagai sentrum yang selalu menjadi rujukan umat Islam.
Momok ekstrem kanan yang dulu begitu diwaspadai oleh Orde Baru kini hilang dari kamus politik Indonesia. Kelompok Islam radikal memang berhasil “ditumpas” rezim Orde Baru pada tahun 1980-an. Namun, dalam waktu hampir bersamaan generasi di bawahnya diam-diam membangun jaringan di kampus-kampus.
Kemudian disusul dengan munculnya kelompok-kelompok pengajian kampus pada akhir 1980-an yang terkenal dengan sebutan “kelompok tarbiyah,” melalui kelompok inilah transmisi Islam radikal di Timur Tengah berkembang di Indonesia, khususnya di kampus-kampus umum.
Setelah era reformasi mereka lebih berani tampil ke permukaan secara terang-terangan. Bagi sebagian kalangan, kemunculannya dianggap mengkhawatirkan, bukan semata-mata karena perbedaan ideologis, tetapi lantaran sebagian di antaranya menggunakan cara-cara kekerasan memperjuangkan aspirasinya. Kekerasan di sini tak hanya dalam arti fisik, tetapi juga kekerasan wacana yang terekspresi melalui kecenderungan mereka yang dengan mudah mengeluarkan fatwa murtad, kafir, syirik, dan semacamnya bahkan kepada sesama Muslim.
Kita sadari bahwa Indonesia adalah negara plural yang terdiri dari beragam suku, ras, agama, budaya yang berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia. Pluralisme yang menjadi ciri bangsa dan Negara Indonesia ini, semestinya diimbangi dengan demokratisasi yang kuat sehingga tidak menimbulkan gejolak baru yang berkembang. Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin seyogyanya dimaknai oleh penganutnya dengan penuh keramahan, kedamaian, dan kasih sayang. Bukan sebaliknya, seolah-olah Islam menjadi sesuatu yang mengerikan, menyeramkan, dan menakutkan bagi umat lain, sehingga performen keseluruhan umat Islam pun turut terpengaruh.
Arogansi, kepongahan, serta kecongkakan yang mementingkan keinginan kelompoknya masing-masing adalah benih dari sebuah bentuk radikalisme. Karena itu, di era global sekarang ini wajah seram semacam itu, tak boleh lagi tumbuh berkembang. Wallahualam. (hawe

 

Posted by MUSLIH SUMANTRI in

9 Komentar Mengenai Partai Komunis Tiongkok
(Bagian 9 dari 9)
Watak Dasar Kejahatan dari PKT
Gerakan komunisme yang telah bergembar-gembor selama 100 tahun lebih, hanya membawa kepada manusia peperangan, kemiskinan, pertumpahan darah dan otokrasi. Seiring dengan ambruknya negara komunis Rusia dan Eropa Timur, drama ngawur yang mencelakakan dunia manusia itu pada akhir abad yang lalu telah memasuki babak akhir. Dari rakyat jelata hingga Sekretaris Jenderal Partai sudah tidak seorang pun yang mempercayai lagi kebohongan komunisme.

Kekuasaan Partai Komunis bukan "kekuasaan raja yang dianugerahi oleh Dewa", juga bukan "hasil pemilihan demokrasi". Sekarang ini, di saat keyakinannya yang dijadikan sandaran hidupnya telah hancur lebur, maka legalitasnya untuk tetap berkuasa telah menghadapi tantangan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak mau tunduk pada arus sejarah dan tidak mau mundur dengan sendirinya dari panggung pentas sejarah, melainkan mulai lagi mencari-cari legalitas dengan mempraktekkan berbagai macam cara-cara berandal yang terakumulasi dalam kampanye politik selama beberapa puluh tahun. PKT masih mencoba hidup kembali di tengah rontaan yang gila-gilaan.
Baik reformasi maupun keterbukaan yang dilakukannya, tujuan PKT hanya demi mempertahankan kepentingan kelompoknya dan kekuasaan otoriternya secara mati-matian. Perkembangan ekonomi Tiongkok selama 20 tahun belakangan ini, yang merupakan hasil jerih payah dari rakyat Tiongkok yang tetap berada di bawah pengendalian yang ketat, bukan saja tidak dapat membuat PKT meletakkan pisau jagalnya, malah dibajaknya sebagai modal bagi legitimasi kekuasaannya, membuat sepak terjang jahatnya selama ini lebih berpotensi mengelabui dan membingungkan. Yang paling menakutkan ialah, PKT sedang mengerahkan seluruh upaya, menghancurkan fondasi moralitas segenap bangsa, mencoba merubah orang-orang Tionghoa menjadi penjahat besar dan kecil dalam tingkat-tingkat yang berbeda, untuk memberikan lingkungan hidup bagi PKT "berjalan seiring waktu".
Demi ketenteraman bangsa yang abadi, demi negara Tiongkok sedini mungkin memasuki era yang tanpa partai komunis untuk mengukir kembali kegemilangan bangsa, di hari ini dalam sejarah, adalah sangat penting bagi orang-orang untuk mengenali dengan jelas mengapa Partai Komunis ingin mempraktekkan gaya bengis serta watak dasar dari kejahatan.
I. Sifat Hakiki Keberandalan Partai Komunis Sejak Dulu Tidak Pernah Berubah
Untuk Siapa Partai Komunis Bereformasi
Di dalam sejarah, setiap kali PKT mengalami krisis, akan selalu menampilkan sejumlah tanda-tanda perbaikan, untuk membangkitkan khayalan orang-orang terhadap PKT. Namun tanpa ada yang terkecuali, impian-impian kosong ini satu per satu sirna bagaikan gelembung sabun. Sekarang ini, di bawah wujud palsu dari kemakmuran ekonomi PKT bergaya etalase pamer yang mengejar hasil dan keuntungan di depan mata, orang-orang timbul lagi khayalan terhadap partai komunis. Tetapi, pertentangan dasar antara kepentingan PKT dan kepentingan bangsa dan negara, telah menentukan bahwa kemakmuran semacam ini tidak dapat bertahan lama, reformasi yang dijanjikan semata-mata demi membela kekuasaan PKT, hanya berupa reformasi yang pincang bagaikan barang lama diganti etiket baru. Di balik perkembangan yang abnormal tersembunyi krisis sosial yang lebih besar. Sekali krisis tersebut meletus, bangsa dan negara sekali lagi akan mengalami terpaan yang amat besar.
Seiring dengan pergantian generasi pimpinan PKT, mereka tidak lagi memiliki kualifikasi dan pengalaman untuk menguasai negara, juga makin hari semakin tidak memiliki kewibawaan untuk mempertahankan negara. Tetapi partai komunis sebagai satu tubuh kesatuan, ditengah krisis legitimasi, perlindungan terhadap kepentingan kelompoknya makin hari semakin menjadi jaminan pokok bagi perlindungan terhadap kepentingan individu. Partai politik yang berbasis pada ego dan tanpa pengekangan apapun, khayalan orang-orang terhadapnya untuk dapat berkembang tanpa manuver, itu hanyalah suatu hal yang dikehendaki sepihak.
Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh media PKT "Ren Ming Re Bao" (Harian Rakyat):
"Dialektika sejarah telah memberi pelajaran yang matang bagi orang-orang PKT: yang mesti dirubah, haruslah dirubah, jika tidak dirubah akan merosot; yang tidak mesti dirubah, mutlak tidak boleh dirubah, jika dirubah akan meruntuhkan diri sendiri." (12 Juli 2004 berita halaman pertama).
Apa yang tidak mesti dirubah? "Garis dasar partai berupa 'satu inti, dua titik dasar' menginginkan pengendalian selama seratus tahun, itu tidak boleh diusik" (12 Juli 2004 halaman pertama)
Orang-orang tidak mengerti apa sebenarnya yang dimaksud inti dan titik dasar, akan tetapi, siapa pun paham bahwa tekad roh jahat komunis dalam membela kepentingan kelompoknya serta otokrasi kediktatorannya, mutlak tidak akan berubah. Kendati partai komunis telah kalah dan runtuh di dalam lingkup dunia, itu pun merupakan takdir bagi komunisme untuk mendekati ajalnya. Tetapi, sesuatu yang semakin mendekati pemusnahan, dia semakin mempunyai daya rontaan yang membawa maut menjelang kematiannya. Berbicara reformasi dan demokrasi dengan Partai Komunis, tak lain adalah berunding dengan harimau untuk mengganti kulitnya.
Tanpa Partai Komunis, Tiongkok akan Bagaimana Jadinya
Di saat Partai Komunis melangkah menuju kemerosotan, orang-orang di luar dugaan menemukan, PKT yang dirasuki roh jahat selama beberapa puluh tahun dengan mengandalkan cara-cara berandal yang berubah-ubah 1001 macam, telah menyuntikkan unsur-unsur kejahatan partai komunis ke dalam berbagai aspek kehidupan rakyat.
Dulu saat Mao meninggal, berapa banyak orang menangis tersedu di hadapan foto almarhum Mao Zedong, dengan mengulang-ulang sebuah perkataan: "Setelah tiada Mao Zedong, Tiongkok bagaimana jadinya?" Kini setelah dua puluh tahun berlalu, di saat Partai Komunis kehilangan legalitas kekuasaannya, dengan sinis propaganda baru media PKT kembali membuat orang-orang menyuarakan kekuatiran bahwa "tanpa partai komunis, Tiongkok akan bagaimana jadinya".
Pada kenyataan, cara penguasaan PKT yang merambah ke dalam segala aspek kehidupan, membuat kebudayaan Tionghoa, cara pemikiran masyarakat Tionghoa, bahkan kriteria untuk menilai PKT, semuanya telah dibubuhi cap PKT, bahkan persis seperangkat dari PKT itu. Jika dahulu dikatakan mereka mengandalkan indoktrinasi untuk menguasai pikiran orang-orang, maka sekarang adalah masa di mana PKT sedang memetik hasilnya. Karena hal-hal yang diindoktrinasikan telah dicerna, telah ber-evolusi menjadi sel dari diri sendiri, orang-orang dengan sendirinya akan berpikir menurut logika PKT, dan mengevaluasi suatu hal benar atau salah dengan berpijak di atas sudut pandang PKT. Perihal penembakan pada peristiwa Tiananmen 4 Juni 1989, ada yang berkata, "Jika saya adalah Deng Xiaoping, saya juga akan menindas mahasiswa dengan menggunakan tank". Perihal penindasan Falun Gong, ada yang berkata, "Jika saya adalah Jiang Zemin, saya juga akan membasminya hingga tuntas". Perihal pelarangan bebas berbicara, ada yang mengatakan, "Jika saya adalah Partai Komunis, saya juga akan berbuat demikian". Kebenaran dan suara nurani telah sirna, yang tertinggal hanya logika Partai Komunis. Ini adalah salah satu cara yang paling kejam dan berbahaya dari watak dasar kejahatan PKT. Asalkan di dalam benak pikiran orang-orang masih tersisa unsur racun semacam ini dari PKT, maka PKT akan dapat mempertahankan jiwa jahatnya dengan menyerap energi dari unsur tersebut.
"Tanpa Partai Komunis, Tiongkok akan bagaimana jadinya?" Cara pemikiran yang demikian, justru merupakan sesuatu yang diidamkan dalam mimpi oleh PKT, agar orang-orang memikirkan masalah dengan menggunakan logika mereka.
Bangsa Tionghoa dalam keadaan tanpa PKT sejak dulu telah melewati sejarah peradaban yang panjang selama lima ribu tahun. Masyarakat apa pun di atas dunia juga tidak ada yang berhenti derap langkah majunya hanya dikarenakan runtuhnya sebuah kerajaan. Namun orang-orang yang telah mengalami penguasaan PKT selama beberapa puluh tahun, sudah mati rasa terhadap hal-hal tersebut. Propaganda yang berkepanjangan dari PKT, serta pendidikan yang mengumpamakan partai sebagai ibunda, strategi poiltik PKT yang menyusup kesegala bidang, membuat orang-orang sudah tidak terpikirkan lagi, seandainya PKT telah tiada, bagaimana kita harus hidup.
Setelah Mao Zedong tiada, negara Tiongkok tidak roboh; setelah tiada partai komunis, apakah Tiongkok akan runtuh?
Siapa Sebenarnya Sumber Kekacauan
Banyak orang sangat paham dan antipati terhadap tindak tanduk kejahatan PKT, dan muak terhadap seperangkat benda komunisme yang menguasai orang dan membohongi orang. Tetapi rakyat telah dibuat takut oleh kampanye politik dan kekacauan yang dicetuskan oleh PKT, mereka takut Tiongkok menjadi kacau. Begitu PKT menggunakan nama "kekacauan" untuk mengancam rakyat, orang-orang dikarenakan tak berdaya terhadap kekuasaan paksaan PKT, seringkali mereka hanya dapat mengiyakan saja kekuasaan PKT.
Sesungguhnya, PKT yang memiliki beberapa juta tentara dan polisi, dia barulah merupakan sumber "kekacauan" yang sebenarnya dari negara Tiongkok. Rakyat tidak punya alasan untuk berbuat "kekacauan", lebih-lebih tidak berkompeten untuk berbuat "kekacauan". Hanya PKT yang bergerak melawan arus, baru dapat membuat rumput dan pohon semuanya nampak seperti tentara musuh, sehingga menyeret negara ke dalam kekacauan. Semboyan "kestabilan menaklukkan segalanya", "segala unsur yang tidak stabil dibasmi pada kondisi ia bertunas", telah menjadi dasar teori PKT untuk menindas rakyat. Siapa yang merupakan faktor ketidakstabilan terbesar dari negara Tiongkok? Tepatnya adalah PKT yang menerapkan politik kezaliman secara profesional. Dia yang menggerakkan kekacauan, malah menggunakan "kekacauan" untuk mempermainkan dan mengancam rakyat, memang beginilah perbuatan penjahat sejak dulu.
II. Perkembangan Ekonomi Menjadi Barang Sesajen PKT
Prestasi yang Diraih dengan Membajak Hasil Jerih Payah Rakyat
"Legalitas" yang diakui sendiri oleh PKT adalah perkembangan ekonomi dalam 20 tahun belakangan ini. Pada kenyataan, perkembangan ekonomi justru adalah dibangun sedikit demi sedikit oleh rakyat Tiongkok setelah mereka diberikan sedikit kelonggaran dari kekangan PKT, tidak ada hubungan sedikit pun dengan PKT. Namun PKT malah mempropagandakannya sebagai jasa mereka, bahkan menghendaki rakyat berterima kasih kepada mereka, seolah-olah tanpa PKT, semua ini tidak bakal ada. Semua orang tahu, di banyak negara lain yang tanpa partai komunis, semua yang lebih baik dari pada ini sejak dini telah ada.
Setelah Tiongkok meraih medali emas dalam Olimpiade, para atlet harus berterimakasih kepada partai. Partai sendiri lebih-lebih memanfaatkan sepenuhnya mahkota palsu "negara raksasa olahraga" sebagai modal untuk menyanjung kepemimpinan partai yang bijaksana. Penyakit "SARS" cukup merepotkan negara Tiongkok, akhirnya dikatakan: "Berkat teori dasar partai, garis dasar, program dasar dan pengalaman dasar partai" baru dapat menaklukkan virus penyakit (komentar Ren Ming Re Bao). Pesawat antariksa "Shen Wu" mengorbit ke angkasa, semestinya merupakan sumbangsih dari para ilmuwan dirgantara, oleh PKT malah dijadikan bukti bahwa hanya dengan kepemimpinan mereka baru dapat menghantarkan rakyat Tiongkok menduduki posisi negara kuat di dunia. Bahkan hak penyelenggara Olimpiade tahun 2008, yang semestinya merupakan dorongan dari negara Barat agar PKT memperbaiki keadaan HAM di dalam negeri, oleh PKT malah dianggap sebagai tunjangan bagi "legalitas" nya serta dalih untuk menindas rakyat secara besar-besaran. "Potensi pasar raksasa" yang tampak indah dalam pandangan orang-orang asing, semestinya adalah daya konsumsi dari 1,3 milyar rakyat Tiongkok, oleh PKT malah dianggap sebagai milik sendiri, dijadikan senjata ampuh untuk menggaet pihak Barat agar mau bekerjasama dengan kekuasaan PKT.
Setiap peristiwa buruk selalu dikatakan adalah perbuatan kekuatan reaksioner dan orang-orang yang bermotif tersembunyi, sedangkan peristiwa baik selalu dikatakan sebagai hasil yang baru akan tercapai berkat kepemimpinan partai. Setiap prestasi akan selalu dimanfaatkan PKT untuk mempersolek diri bagi "legalitas" kepemimpinannya. Bahkan dalam beberapa peristiwa buruk, PKT juga dapat merubah yang buruk menjadi yang baik untuk keperluan dirinya. Misalnya, dalam keadaan di mana PKT sudah tidak lagi dapat menutup-nutupi fakta kenyataan merebaknya penyakit AIDS yang beritanya selama ini diblokir dengan ketat, berkat pengaturan yang seksama, PKT menyulap diri. Mengerahkan arus agresif yang terdiri dari aktor beken sampai Sekretaris Jendaral Partai untuk berpropaganda. Dengan segera PKT menyamar diri dari pentolan kejahatan menjadi pembawa kabar gembira bagi penderita penyakit, menjadi dewa penolong penyakit AIDS, menjadi penantang terhadap penyakit umat manusia. Peristiwa begitu besar yang menyangkut jiwa manusia, yang dipikirkan oleh PKT hanya memanfaatkannya untuk mempersolek diri. Perbuatan semacam ini yang merampas kepentingan orang secara terang-terangan maupun tersembunyi, serta memperlakukan jiwa manusia sebagai rumput, hanya dapat dilakukan oleh berandal seperti PKT ini.
Perbuatan Jangka Pendek Mengakibatkan "Gejala buruk yang akan tercetus dikemudian hari"
PKT dalam menghadapi "krisis legalitas" yang serius, telah menjalankan reformasi dan keterbukaan demi membela kekuasaannya. Perbuatan yang mengejar hasil dan keuntungan di depan mata, telah membuat Tiongkok terjerumus kedalam lingkaran "gejala buruk yang akan tercetus di kemudian hari."
Pengertian dari "gejala buruk yang akan muncul di kemudian hari", atau "gejala menguntungkan yang akan muncul di kemudian hari" ialah, mengacu pada kenyataan bahwa negara terbelakang dapat meniru negara maju. Peniruan tersebut ada dua macam bentuk, satu adalah meniru sistemnya, satu lagi adalah meniru teknologi dan pola industrialisasinya. Meniru sistem lebih sulit, karena perubahan sistem akan menyalahi sejumlah kepentingan yang sudah diperoleh, oleh sebab itu negara terbelakang akan cenderung pada peniruan teknologi. Peniruan teknologi walaupun dalam waktu dekat dapat terlihat hasil perkembangannya, namun akan meninggalkan banyak bahaya laten dalam perkembangan jangka panjang, bahkan mengakibatkan kegagalan dalam perkembangan jangka panjang.
PKT justru menempuh jalan kegagalan dari "gejala buruk yang akan tercetus di kemudian hari". Selama 20 tahun lebih ini, telah memperoleh sedikit keberhasilan dari "peniruan teknologi", PKT lalu menjadikan keberhasilan tersebut sebagai modal untuk membuktikan kepada rakyat akan "legalitas" kekuasaannya. Dengan demikian maju selangkah menyalahi perubahan sistem politik yang membahayakan kepentingan PKT sendiri, dan rela mengorbankan kepentingan bangsa dalam perkembangan jangka panjang.
Perkembangan Ekonomi Dibayar dengan Harga yang Pahit
PKT selalu menyombongkan diri atas kemajuan ekonomi yang diraih negaranya, sesungguhnya kedudukan ekonomi Tiongkok di dunia masih tidak sebaik dibandingkan masa Qian Long. Pada masa Qian Long saat dinasti Qing, total nilai produksi nasional (GDP) Tiongkok mencakup 51% dari seluruh dunia. Saat awal Mr. Sun Zhong Shan (Sun Yatsen) mendirikan negara nasionalis, nilai GDP Tiongkok mencakup 27 persen dari seluruh dunia, tahun ke-11 dari negara nasionalis, GDP masih mencapai 12 persen, saat PKT mendirikan kekuasaannya, GDP Tiongkok mencakup 5.7 persen dari seluruh dunia; sedangkan sampai tahun 2003, GDP Tiongkok bahkan tidak mencapai 4 persen dari seluruh dunia. Berbeda dengan kemerosotan ekonomi pada masa pemerintahan nasionalis yang dipicu oleh peperangan selama beberapa puluh tahun, kemerosotan ekonomi PKT pada dasarnya terjadi dalam masa yang damai.
Kini PKT demi legalitas kekuasaannya, telah mengadakan reformasi ekonomi yang pincang sebelah, yang mengejar hasil dan keuntungan di depan mata, demi membela kepentingan kelompok partainya diatas segala-galanya, namun membuat negara harus membayar dengan harga pengorbanan yang pahit. Pertumbuhan pesat ekonomi selama 20 tahun lebih pada tingkat makro adalah dibangun atas dasar pengurasan sumber materi yang berlebihan, bahkan pemborosan, lagipula acap kali dengan mengorbankan lingkungan sebagai nilai bayarnya. Angka GDP Tiongkok ada sebagian yang cukup besar diperoleh dengan mengorbankan kesempatan generasi penerus. Pada 2003, total kontribusi ekonomi Tiongkok kepada dunia tidak sampai 4 persen, namun pemakaian material besi baja, semen dan lainnya malah mencakup sepertiga dari kebutuhan seluruh dunia. (Laporan kantor berita Xin Hua, 4 Maret 2004)
Dari 1980-an sampai akhir 1990, luas tanah yang berubah menjadi pasir tandus di Tiongkok setiap tahun bertambah, dari 1.000 kilometer persegi lebih menjadi 2.460 kilometer persegi. Pada 1980, areal cocok tanam orang-orang di Tiongkok rata-rata hampir 2 Mu (1 Mu = 1/15 hektar), tahun 2003 berkurang sampai 1.43 Mu, saat kampanye "pembebasan tanah" yang menggebu-gebu dalam beberapa tahun belakangan ini, areal cocok tanam di seluruh negeri telah berkurang 100 juta Mu, sedangkan tanah yang dibebaskan hanya terpakai sebanyak 43%. Dewasa ini total kwantitas pembuangan air limbah di Tiongkok sebanyak 43.95 miliar ton, melebihi daya penampungan lingkungan sebanyak 82%. Sistem pengairan dari tujuh sungai besar, air yang tidak layak diminum bagi manusia dan ternak mencapai 40.9%, sedangkan 75% danau muncul gejala nutrisasi dalam taraf yang berbeda. Pengrusakan orang Tiongkok terhadap alam lingkungan sejak dulu tidak pernah mencolok seperti sekarang. Dengan pertumbuhan semacam ini, negara Tiongkok bahkan seluruh dunia juga tidak sanggup menanggungnya (laporan kantor berita Xin Hua 29 Februari 2004). Orang-orang yang terobsesi oleh gedung mewah bertingkat yang berada di depan mata, mungkin sama sekali tidak tahu akan krisis ekosistim yang semakin dekat menghampiri. Tetapi begitu tiba saatnya alam semesta ingin mengganjar umat manusia, pukulannya terhadap bangsa Tionghoa mungkin akan menjadi sebuah malapetaka.
Dibandingkan Rusia yang telah mencampakkan komunisme, perubahan ekonomi dan perubahan politik bersamaan dilakukan, setelah mengalami penderitaan dalam jangka pendek, sudah mulai menapakkan kaki pada jalan perkembangan yang pesat. Dari 1999 hingga 2003, akumulasi peningkatan GDP Rusia sebanyak 29.9%, taraf hidup penduduk meningkat secara nyata. Kalangan bisnis barat tidak hanya mulai memperbincangkan “fenomena ekonomi Rusia”, juga mulai secara besar-besaran memasuki Rusia yang merupakan ladang baru untuk investasi. Urutan Rusia sebagai negara yang paling berdaya tarik untuk investasi beranjak dari No.17 pada 2002 menjadi No.8 pada 2003, pertama kali masuk dalam barisan sepuluh besar ladang investasi yang paling diminati di dunia.

Bahkan negara India yang dalam kesan kebanyakan orang Tiongkok merupakan negara miskin dan terbelakang, serta terus menerus terjadi pertikaian suku, setelah menjalani perubahan ekonomi sejak 1991, berkembang pesat secara nyata, pertumbuhan ekonomi setiap tahun meningkat mencapai 7 hingga 8 persen. India memiliki sistem hukum ekonomi pangsa pasar yang lebih sempurna, sistem moneter yang sehat, sistem demokrasi yang lebih matang, mentalitas bangsa yang mapan, masyarakat internasional secara umum menganggap India adalah suatu negara yang memiliki potensi perkembangan yang besar.
Sebaliknya, PKT hanya menjalani reformasi ekonomi, tidak menjalani reformasi politik, di bawah wujud palsu kemakmuran ekonomi jangka pendek, merintangi selektifitas alami dari “perkembangan sistem”. Reformasi tidak tuntas yang setengah-setengah ini, membuat masyarakat Tiongkok semakin berubah abnormal, konflik sosial semakin meruncing, perkembangan yang diraih oleh rakyat sekarang tidak ada jaminan apapun yang berlandaskan peraturan. Golongan hak istimewa dalam PKT bahkan memanfaatkan kekuasaan di tangannya untuk meraup keuntungan secara tidak wajar di dalam proses swastanisasi aset milik negara.
Penipuan dan Pemerasan PKT yang Berkali-kali terhadap Petani
Dunia PKT didirikan dengan mengandalkan petani. Rakyat, di daerah basis awal yang dikuasai PKT, telah mempersembahkan segala-galanya demi PKT. Akan tetapi, setelah PKT berhasil merebut kekuasaan, para petani malah mendapat perlakuan diskriminasi yang serius.
Pasca mendirikan pemerintahan, PKT telah menetapkan peraturan yang sangat tidak adil, yaitu sistem status warga. Secara paksa PKT memisahkan “penduduk pertanian dan penduduk non pertanian”, negara tanpa alasan menciptakan perpecahan dan pertentangan antara dua tingkat golongan. Petani tidak memiliki asuransi medis, tidak ada santunan PHK, tidak ada pensiun, tidak boleh meminjam kredit. Petani adalah kelas yang paling miskin di Tiongkok, namun juga merupakan kelas yang paling berat dibebani pajak. Petani harus membayar dana simpanan umum, dana kesejahteraan umum, dana administrasi, biaya pendidikan tambahan, biaya perencanaan kelahiran, biaya pembangunan dan pelatihan milisi rakyat, biaya pembangunan dan perawatan jalan desa. Di samping itu masih harus menyerahkan setoran hasil padi-padian, pajak pertanian, pajak tanah, pajak produk khusus, pajak pemotongan ternak, dan lain-lain. Terdapat pula berbagai macam pembagian kerja bakti yang beraneka ragam sebutannya. Sedangkan mereka yang “penduduk non pertanian” tidak usah menanggung semua pajak dan biaya seperti ini.
Pada awal 2004, Perdana Menteri Wen Jia Bao telah mempublikasikan “Dokumen No. 1”, menyingkap masa yang paling kritis semenjak reformasi dan keterbukaan tahun 1978, yang dihadapi petani Tiongkok. Di daerah pedesaan Tiongkok, penghasilan mayoritas petani mengalami kembang kempis bahkan pengurangan, sehingga makin lama semakin miskin, kesenjangan penghasilan antara penduduk kota dan penduduk desa terus berlanjut kian membesar.
Di sebuah perusahaan kehutanan di bagian Timur propinsi Sizhuan, dari atasan dikucurkan dana 500 ribu yuan untuk reboisasi hutan. Pimpinan perusahaan kehutanan pertama-tama menggerogoti 200 ribu yuan untuk diri sendiri, sisanya 300 ribu yuan diborongkan kepada bawahan. Dana tersebut digelapkan setingkat demi setingkat, uang yang tersisa tidak seberapa akhirnya dibagikan kepada petani setempat yang benar-benar mengerjakan reboisasi hutan. Pemerintah tidak perlu kuatir para petani akan mengeluh minimnya upah untuk menanam pohon, karena mereka sudah terlampau miskin, sekalipun dengan upah yang lebih rendah, para petani juga pasti akan melakukannya. Oleh sebab itu, barang-barang yang “Made in China” bisa begitu murah, juga adalah demikian alasannya.
Dengan Kepentingan Ekonomi Mempermainkan dan Merangkul Negara Barat
Banyak orang beranggapan hubungan perdagangan dapat meningkatkan penghormatan terhadap HAM, kebebasan beropini dan perubahan demokrasi di Tiongkok. Namun dengan berlalunya belasan tahun, terbukti semua itu hanyalah harapan semu. Yang paling menonjol adalah prinsip berbisnis, adil dan transparan dari pihak Barat telah berubah menjadi hubungan antar manusia, sogok menyogok, korupsi dan kebobrokan di Tiongkok. Banyak perusahaan besar dari Barat telah menjadi pelopor utama yang mendorong arus bagi tumbuhnya kebobrokan di Tiongkok, bahkan ada yang menjadi tameng bagi PKT untuk menginjak-injak HAM dan menindas rakyat.
Memainkan kartu truf ekonomi adalah perwujudan modus kejahatan PKT di bidang diplomatik. Order pesanan pesawat terbang Tiongkok diberikan kepada Perancis atau Amerika, semua ini harus ditinjau dari negara mana yang tidak banyak mengomentari Tiongkok dalam aspek HAM. Keuntungan yang dijanjikan ekonomi Tiongkok telah menggaet dengan erat para pedagang Barat dan politisi dalam jumlah yang tidak sedikit. Sejumlah perusahaan jaringan internet di Amerika Utara mensuplai produk khusus bagi PKT untuk memblokade internet; ada sebagian situs keluarga untuk dapat memijakkan kakinya di Tiongkok, secara otomatis ingin “mendisiplinkan diri”, menyaring informasi yang tidak disukai oleh PKT.
Menurut statistik lembaga niaga Tiongkok, sampai batas akhir bulan April 2004, di seluruh negeri jumlah modal asing yang dipergunakan dalam total kontrak sebesar 990.13 miliar dollar Amerika. Modal asing telah berfungsi sebagai transfusi darah secara makro bagi ekonomi PKT. Sedangkan dalam proses transfusi darah tersebut, modal asing tidak mampu membawakan pemahaman demokrasi, kebebasan dan HAM sebagai prinsip dasar bagi rakyat Tiongkok. Kerjasama “tanpa syarat” dari pedagang asing dan pemerintah asing, serta kata-kata manis dari sebagian negara yang ingin mencari muka, malah dijadikan modal propaganda bagi kekuasaan PKT. Di bawah kedok kemakmuran ekonomi di permukaan, pejabat dan pedagang bersekongkol, membagi-bagi harta negara, merintangi reformasi politik mencapai taraf pada puncaknya.
III. Teknik PKT Mencuci Otak dari “Terang-terangan” Melangkah Menuju “Halus Mulus”
Sering terdengar orang-orang mengucapkan kata-kata yang demikian: “Saya tahu PKT dahulu selalu berbohong, tetapi kali ini apa yang dia katakan memang benar”. Jika waktu diputar balik, banyak sekali di dalam sejarah, di saat PKT melakukan kesalahan besar, dengan nada sinis orang-orang juga mengucapkan perkataan demikian. Ini merupakan kepandaian berbohong dari PKT yang ditempakan selama beberapa puluh tahun untuk membohongi rakyat.
Rakyat telah mempunyai sejumlah daya tangkal terhadap cara pembohongan yang canggih, tinggi, seperti “meluncurkan satelit”. Maka propaganda kebohongan PKT juga beralih ke jalur yang “halus mulus” dan “profesional”. Propaganda kebohongan yang dulu bersifat slogan berubah menjadi semakin “menyusup perlahan mengikuti aturan” dan “meresap secara halus ketingkat mikro”. Terutama di bawah blokade informasi, dengan kebohongan yang berlandaskan beberapa “fakta” sepihak, mengarahkan publik pada suatu pengertian yang keliru. Bahaya yang ditimbulkan lebih menyesatkan daripada cara “meluncurkan satelit”.
Majalah berbahasa Inggris “China Scope” pada bulan Oktober 2004 telah memuat sebuah analisis contoh kasus, yang membahas bagaimana sekarang PKT menggunakan cara yang lebih “halus mulus” untuk mengarang kebohongan dan menutupi fakta sebenarnya.
Pada tahun 2003 di saat penyakit SARS merebak di daratan Tiongkok, pihak luar umumnya mencurigai PKT menyembunyikan keadaan wabah penyakit, namun PKT berkali-kali membantahnya. Untuk memahami apakah laporan PKT terhadap penyakit SARS objektif atau tidak, penulis artikel itu telah membaca seluruh laporan dari Xinhua net semenjak awal tahun sampai awal April 2003 sebanyak 400 lebih artikel. Dari laporan-laporan tersebut, dia telah memahami bahwa begitu munculnya penyakit SARS, para ahli medis dari tingkat pusat sampai daerah segera mendiagnosa, memberikan pengobatan. Sementara itu sebagian orang bergegas memborong barang-barang untuk persediaan sehari-hari karena takut adanya epidemi yang lebih besar. Pemerintah segera menangkal isu, membantah desas-desus, dengan demikian telah menjamin kestabilan hidup rakyat yang tertib. Kekuatan anti Tiongkok dalam jumlah sangat kecil di luar negeri dengan tanpa bukti mencurigai pemerintah Tiongkok menyembunyikan keadaan, akan tetapi mayoritas negara dan rakyat tidak akan mempercayai mereka.
Begitu pun saat akan diadakannya pertemuan yang bersifat internasional, Guangzhou Trade Fair, yang akan diikuti paling banyak peserta dalam sejarah. Wisatawan asing memberikan kesaksian dengan mengatakan berwisata di Tiongkok adalah aman, terutama para pakar dari WHO (yang dikelabui) juga tampil mengatakan PKT berkoordinasi dengan baik, mengambil tindakan yang tepat, tidak ada masalah. Para pakar (yang tertunda selama 20 hari lebih) masih diizinkan pergi ke Guang Dong untuk mengadakan penyelidikan secara terbuka.
Setelah selesai membaca 400 lebih laporan tersebut, penulis artikel itu merasa PKT dalam waktu empat bulan ini segalanya sangat transparan, bertanggung jawab mutlak terhadap kesehatan rakyat, bagaimana mungkin menyembunyikan suatu berita?
Menyusul kemudian, tanggal 20 April 2004, Kantor Penerangan Dewan Negara mengadakan konferensi pers, mengumumkan bahwa penyakit SARS meledak secara menyeluruh di Tiongkok. Akan tetapi sudah diatasi dengan baik. Dengan begitu secara samar PKT mengakui selama ini menyembunyikan keadaan wabah penyakit. Penulis itu barulah memahami fakta sebenarnya, betul-betul telah menyaksikan sendiri cara penipuan gaya jahat PKT yang “berjalan maju seiring waktu”.
Dalam hal pemilu di Taiwan, PKT juga menggunakan cara “menyusup perlahan mengikuti aturan” dan “mengarahkan dengan sungguh-sungguh” untuk memberi isyarat kepada rakyat. Bahwa pemilihan presiden itu akan mengakibatkan: tingkat bunuh diri melambung, pasar saham hancur pailit, “penyakit aneh” bertambah banyak, sakit mental, eksodus penduduk pulau, anggota keluarga berseteru, hidup pesimis, pasar dagang sepi, kekacauan di tengah jalan, pertikaian dan protes, pengepungan istana presiden, dunia kacau balau, sandiwara politik, dan lain-lain. Hari demi hari berita bayangan kekacauan ini diindoktrinasi kepada rakyat umum di daratan, agar rakyat berkesimpulan dengan hasil pemikirannya sendiri bahwa “semua itu adalah malapetaka yang dicetuskan oleh pemilu”, “kita jangan sekali-kali mengadakan pemilihan demokrasi”.
Dalam masalah Falun Gong, cara PKT mencoreng Falun Gong lebih-lebih telah memenuhi standar. Segalanya dilakukan begitu persis seperti sesungguhnya, dipentaskan satu persatu, membuat banyak rakyat mau tidak mau mempercayai, cara jahat PKT dalam mengelabui orang, telah berhasil membuat orang yang dikelabui dengan sukarela dan inisiatif mempercayai kebohongan PKT, orang yang dikelabui malah mengira kebenaran berada dalam genggaman mereka.
Dalam beberapa puluh tahun ini, keterampilan PKT berbohong untuk propaganda cuci otak telah berubah menjadi semakin “halus mulus” dan “mikroskopik”. Ini adalah perpanjangan yang alami dari watak dasarnya yang jahat dan berbohong.
IV. PKC Menerapkan HAM Munafik
Dimulai dari Memperdebatkan Demokrasi untuk Merebut Kekuasaan hingga Kekuasaan Ditaktor dan HAM Munafik
“Sebuah negara demokratis, kedaulatan seharusnya berada di tangan rakyat. Ini adalah sebuah hal yang sudah sewajarnya. Bila dikatakan sebagai negara demokratis, namun kedaulatan tidak berada ditangan rakyat, maka itu merupakan sebuah penyimpangan, mutlak bukan negara demokratis. Tidak mengakhiri kekuasaan partai, tidak melaksanakan pemilu rakyat, bagaimana dapat mewujudkan demokrasi? Serahkan kekuasaan rakyat ke tangan rakyat!”
Anda mungkin mengira bahwa kutipan di atas adalah pernyataan kekuatan musuh asing yang bertujuan untuk menghakimi PKT. Anda salah --pernyataan di atas berasal dari lembaga media PKT “Harian Xinhua” pada 27 September 1945.
PKT yang mengumandangkan “pemilihan umum”, menyerukan “serahkan kekuasaan rakyat ke tangan rakyat”, namun setelah merampas kekuasaan, bahkan telah menabukan kata “pemilu”. Rakyat yang dikatakan sebagai “tuan di rumahnya sendiri” tetap saja tidak mempunyai hak sebagai tuan rumah. Dengan tindakan yang demikian, sebutan “berandal” pun tidak cukup untuk melukiskan tampang PKT.
Bila anda mengira bahwa bagaimanapun juga peristiwa sudah berlalu dan keadaan sudah berubah; PKT sebagai “agama sesat” yang hidup dengan mengandalkan pembunuhan dan pembohongan kini akan bisa berubah menjadi baik, mereka akan “menyerahkan kekuasaan rakyat ke tangan rakyat”, maka anda keliru lagi. Mari kita lihat apa yang dikatakan oleh lembaga media yang menjadi corongnya PKT, “Harian Rakyat” sekarang, setelah 60 tahun berlalu: “Memegang teguh kuasa dominan tugas ideologi, adalah keperluan fundamental untuk memperkokoh basis ideologi dan basis politik dari kekuasaan partai.” (23 Nopember 2004, halaman 9)
“Doktrin Tiga Tanpa” yang dilontarkan baru-baru ini oleh PKT, urutan pertamanya adalah “berkembang tanpa perdebatan”. Yang disebut “berkembang” adalah palsu, tujuan sebenarnya dari PKT adalah penekanan pada “tanpa perdebatan” yang “bersuara tunggal”.
Jiang Zemin pernah menerima wawancara dari CBS. Terhadap pertanyaan dari reporter CBS mengenai “mengapa Tiongkok belum juga melaksanakan pemilu”, saat itu dia memberi penjelasan: “Kualitas orang Tionghoa sangat rendah”.
Tetapi jauh pada 25 Februari 1939, di “Harian Xinhua” PKT menyerukan: “Mereka (Partai Nasionalis) mengira pelaksanaan politik demokrasi di Tiongkok bukanlah urusan hari ini, melainkan urusan kelak beberapa tahun lagi. Mereka mengharapkan agar tingkat pendidikan dan pengetahuan rakyat Tiongkok dapat meningkat mencapai seperti kaum borjuis di negara-negara Eropa dan Amerika, barulah dilaksanakan politik demokrasi…namun adalah lebih mudah mendidik dan melatih rakyat di bawah sistem demokrasi.”
Perbedaan yang bersifat hipokrit, munafik, antara apa yang dikatakan oleh Xinhua pada tahun 1939 dan apa yang diucapkan oleh Jiang Zemin tahun 2000 merupakan refleksi dari gambaran hidup dari tampang kejahatan PKT.
PKT setelah peristiwa 4 Juni (pembantaian di Tiananmen), dengan menanggung beban berat HAM tampil kembali di panggung dunia. Sejarah telah memberi PKT kesempatan untuk memilih. Pilihan pertama adalah belajar menghormati rakyat, bersungguh-sungguh memulihkan hak asasi manusia. Pilihan kedua adalah meneruskan pelanggaran HAM di dalam negeri, sedang di luar negeri menerapkan HAM, demi menghindari kecaman.
Sangat disayangkan bahwa watak dasar kejahatan telah mentakdirkan PKT tanpa ragu-ragu mengambil pilihan kedua. Dengan mengumpulkan dan memelihara sejumlah besar ahli propaganda kebohongan yang melibatkan kalangan ilmu pengetahuan dan kalangan agama, menggembar-gemborkan kemajuan palsu HAM PKT; menambal sulam serangkaian argumen yang tak masuk akal tentang pepesan kosong “hak untuk sandang pangan”. Apakah perut lapar menjadikan orang tidak mempunyai hak untuk berbicara? Kalau memang melarang orang yang kelaparan berbicara, apakah orang yang perutnya kenyang juga tidak boleh mewakili orang yang kelaparan berbicara? Serta tiada habisnya mempermainkan tipu muslihat masalah HAM, mengelabui rakyat Tiongkok dan negara demokrasi Barat, bertindak begitu jauh sampai-sampai berteriak , “Saat ini adalah masa-masa terbaik HAM di Tiongkok”.
Pasal 35 Undang-Undang Dasar PKT menetapkan: Warga negara Republik Rakyat Tiongkok mempunyai kebebasan dalam menyatakan pendapat, menerbitkan, berkumpul, berserikat, berpawai dan berunjuk rasa. Semua ini nyata-nyata adalah basa-basi dari PKT. Di bawah kekuasaan PKT, berapa banyak orang yang telah dirampas haknya untuk menganut kepercayaan, menyatakan pendapat, menerbitkan, berserikat dan membela diri. PKT bahkan menetapkan tindakan kelompok tertentu yang mengajukan pendapat sebagai perbuatan ilegal. Sejak tahun 2004, sejumlah perkumpulan telah beberapa kali mengajukan ijin untuk mengadakan kegiatan pawai di Beijing, pemerintah bukan saja tidak memberikan ijin, malah menangkap orang yang mengajukan ijin. Bahkan Hongkong yang oleh Undang-Undang Dasar PKT ditetapkan sebagai “Satu negara dengan dua sistem” juga merupakan tipu daya. Omong kosong tentang 50 tahun tidak berubah, baru 5 tahun berlalu dua sistem sudah dicoba untuk dirubah menjadi satu sistem melalui artikel 23 yang bersifat tirani.
Menggunakan wujud palsu “kelonggaran menyatakan pendapat” untuk menutup-nutupi hakikat pengendalian dan pengawasan adalah suatu taktik berandal yang baru dari PKT. Kelihatannya orang-orang di daratan Tiongkok saat ini mempunyai kelonggaran lebih besar dalam berbicara, munculnya jaringan internet membuat berita-berita beredar lebih cepat. Maka, PKT kemudian mempropagandakan tentang kebebasan mengemukakan pendapat, lagi pula banyak rakyat juga mengira demikian. Ini adalah suatu wujud yang semu. Bukannya PKT yang berubah menjadi murah hati, melainkan adalah perkembangan masyarakat dan kemajuan tehnologi yang membuat PKT tidak mampu mengekang. Dilihat dari peran yang dimainkan PKT dalam jaringan internet, tindakan memblokade, menyaring, mengawasi, mengendalikan dan menghukum adalah mutlak tindakan melawan arus. Sampai hari ini, dengan bantuan sejumlah kapitalis yang melanggar ketulusan HAM, komponen pemantau operasional internet pun terpasang pada mobil patroli polisi PKT. Di tengah arus besar globalisasi kebebasan demokrasi, PKT secara terbuka melakukan kejahatan di hadapan umum. Bagaimana mungkin dia mempunyai kemajuan dibidang HAM, bahkan dia sendiri pun mengatakan “longgar di luar ketat di dalam”, watak hakiki berandal dari PKT mutlak tidak ada perubahan apa pun.
Untuk mencari muka pada konferensi HAM PBB pada 2004, PKT telah menjatuhkan hukuman berat pada serangkaian pelanggar HAM. Tetapi, semua itu dilakukan untuk diperlihatkan kepada dunia luar, sama sekali tidak membawa konsekuensi secara hakiki. Karena pelanggaran HAM terberat di Tiongkok justru dilakukan oleh PKT sendiri beserta para dedengkotnya, yaitu Jiang Zemin, mantan Komisaris Politik dan Hukum Luo Gan, Menteri Keamanan Umum Zhou Yongkang dan Wakil Menteri Liu Qing. Mengandalkan orang-orang seperti ini menumpas pelanggaran HAM, tak lain adalah perbuatan “maling teriak maling”.
Ini bisa dianalogikan dengan seorang residivis pemerkosa. Dulu secara sembunyi-sembunyi dalam satu hari melecehkan 10 gadis, tetapi kemudian karena orang yang lalu lalang semakin banyak, maka dia hanya dapat melecehkan seorang gadis sehari. Dapatkah dikatakan bahwa dia berubah menjadi baik? Dulu pemerkosaan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sekarang dilakukan di hadapan orang lalu lalang, ini justru menunjukkan perilaku yang lebih bejat lagi. Sedangkan sifat dasar si pemerkosa sama sekali tidak berubah, hanya saja kondisi sekeliling tidak memungkinkan dia leluasa melakukan perbuatannya.
PKT sama dengan residivis pemerkosa itu. Watak hakiki kediktatoran PKT, naluri ketakutan akan kehilangan kekuasaan, telah mentakdirkannya untuk tidak menghormati hak rakyat. Upayanya dalam memalsukan HAM membutuhkan harga yang mahal, jauh melampaui biaya yang dikeluarkan untuk benar-benar memperbaiki HAM. Sifat berandal komunis sewenang-wenang mencelakakan negara Tiongkok, ini merupakan kemalangan besar bagi rakyat Tiongkok.
Berkedok “Hukum”, Berkostum “Setelan Jas” Berbuat Kejahatan
Guna melindungi kepentingan pribadi dari kelompok eksklusif, di satu pihak PKT melucuti jubah palsunya, secara tuntas mencampakkan massa petani dan buruh. Dilain pihak seiring skandal HAM PKT semakin banyak terekspos ke masyarakat dunia, PKT berkedok pada kosa kata “menerapkan hukum”, “pangsa pasar”, “demi rakyat”, “reformasi” dan berbagai sebutan populer yang menyesatkan orang. Kebohongan dan cara-cara berandalnya semakin “canggih seiring kemajuan jaman”. Sifat dasar berandal PKT yang memakai setelan jas gaya Barat tidak berubah, lebih berdaya tipu dan menyesatkan dibandingkan dulu ketika masih memakai setelan jas gaya Tiongkok. Bisa diumpamakan sebagai “babi” yang digambarkan di buku George Orwell, Animal Farm (dipublikasikan tahun 1945), yang telah diajar berjalan menggunakan dua kaki, meski berjalan dengan dua kaki telah memberikan citra baru bagi hewan babi, namun sifat “ke-babi-an”nya tetap tidak berubah.
Menetapkan Berbagai Peraturan dan Ketentuan yang Melanggar Undang-undang.
Hukum dan peraturan dalam pelanggaran konstitusi diberlakukan sebagai “dasar hukum” yang disampaikan kepada para perangkat hukum untuk dilaksanakan secara keras. Hal ini dimaksudkan untuk menghabisi massa rakyat atau kelompok orang yang anti penindasan, memperjuangkan kebebasan dan membela HAM.
Masalah yang “Non-politis” Diselesaikan dengan Cara-cara “Politis”

Masalah sosial umum yang terjadi, ditingkatkan menjadi kategori “menyaingi partai memperebutkan massa”, “membinasakan partai dan membinasakan negara”, “kekacauan” dan “kekuatan oposisi”. Masalah-masalah sosial yang “non-politis” ditangani menjadi masalah “politis”, kemudian dengan cara propaganda kampanye politik menghasut sentimen massa agar membenci dan dendam.
Masalah “Politis” Diselesaikan dengan Cara-cara “Non-politis”

Menghadapi sejumlah tokoh gerakan demokrasi dan intelektual liberal, taktik serangan PKT yang terbaru adalah merancang perangkap, menciptakan berbagai “tindak pidana pelanggaran hukum perdata”. Misalnya dengan menuduh mereka sebagai “melacurkan diri”, “menggelapkan pajak” dan lain-lain, untuk menjebloskan mereka kedalam penjara. Dengan demikian bukan saja mengelabui orang, tapi juga untuk menghindari kecaman internasional, bahkan lebih-lebih dapat memanfaatkan tuduhan tersebut untuk mendiskreditkan “terdakwa” dengan mempermalukan mereka di muka umum.
Bila ingin mengatakan bahwa watak dasar kejahatan PKT mengalami perubahan, tentulah berubah menjadi lebih keji, menjadi lebih tidak berperikemanusiaan.
Budaya Sandera Gaya Berandal dengan Menculik Ratusan Juta Rakyat
Jika seorang perampok yang melakukan pemerkosaan diajukan ke pengadilan, dia membela diri dengan mengatakan “hanya melakukan pemerkosaan” dan tidak sampai melakukan pembunuhan. “Pemerkosaan” tidak sejahat “pembunuhan”. Maka dosanya lebih ringan, mungkin saja si pemerkosa malahan bisa diberi predikat melakukan “pemerkosaan rasional”.
Terdengar sangat tidak senonoh, tetapi pada peristiwa 4 Juni di Lapangan Tiananmen, logika PKT sama dengan logika di atas. Dikatakan bahwa “menindas mahasiswa” adalah untuk menghindari kemungkinan terjadinya “kekacauan dalam negeri”. Maka itu, daripada terjadi “kekacauan dalam negeri”, lebih baik menerapkan “penindasan rasional”.
Si pemerkosa malah berbalik tanya pada hakim, “Mana yang lebih baik, perkosaan atau pembunuhan?” Fenomena ini menandakan apa? Hanya bisa dikatakan bahwa pemerkosa tersebut betul-betul jahat dan tidak tahu malu. Begitu juga sama dengan peristiwa 4 Juni, PKT dan antek-anteknya bukannya menimbang apakah perlu mengaku dosa atas pembunuhan tersebut, malah melemparkan pertanyaan pada masyarakat, “Mana yang lebih baik, penindasan atau kekacauan dalam negeri?”.
PKT telah menguasai seluruh mekanisme negara dan alat propaganda negara. Boleh dikatakan bahwa 1,3 milyar rakyat telah menjadi sandera PKT. Dengan adanya 1,3 milyar sandera di tangan, maka PKT akan selalu menggunakan “teori sandera”-nya. Menjabarkan, bila tidak melakukan penindasan terhadap sejumlah orang, ada kemungkinan terjadi kekacauan dalam negeri, akibatnya negara akan terjerumus ke dalam bencana. Dengan dalih semacam ini, maka PKT dapat dengan leluasa melakukan penindasan terhadap siapa pun. Lagipula penindasan yang dilakukan selalu “penindasan rasional”. Adakah tindakan lain yang lebih jahat daripada pemerkosaan terhadap opini rakyat semacam ini?
Madu Ditambah Racun; dari Menganugerahi “Kebebasan” sampai Penindasan yang Makin Menjadi-jadi
Dibandingkan dulu, sekarang orang-orang umumnya merasakan lebih bebas, dan menaruh harapan besar bahwa PKT akan berubah menjadi baik. Sebetulnya, “anugerah” kebebasan yang diberikan kepada rakyat mempunyai kaitan erat dengan kondisi krisis PKT. Asalkan bermanfaat bagi kepentingan kelompok partai, hal apa pun dapat dilakukan oleh PKT, termasuk juga menganugerahi sedikit apa yang disebut sebagai demokrasi, kebebasan dan HAM.
Tetapi di bawah kekuasaan PKT, anugerah “kebebasan” yang diberikan tidak ada jaminan legalitas. “Kebebasan” ini adalah obat bius yang digunakan untuk mengontrol rakyat di era globalisasi ini. Dilihat secara dasar, hal ini sangat bertentangan dengan kepentingan otokrasi PKT. Begitu mencapai taraf berlebihan yang tidak bisa ditolerir oleh PKT, maka dengan segera PKT akan menarik balik segala “kebebasan”. Dalam sejarah PKT, pernah muncul beberapa kali masa-masa dimana secara relatif bebas mengemukakan pendapat, namun kemudian masuk dalam kontrol ketat, begitu berulang-ulang, demikianlah wujud watak dasar kejahatan PKT.
Pada era internet saat ini, bila anda membuka situs Xinhua atau Renming, anda bisa melihat memang terdapat porsi yang seimbang untuk berita-berita negatif. Hal ini disebabkan, pertama, begitu banyak berita buruk saat ini, sedangkan dengan cepatnya penyebaran informasi dan persaingan yang ketat, adalah tidak menguntungkan bila tidak diberitakan. Kedua, pemuatan berita ini cocok dengan kepentingan PKT - “kerugian sedikit membawa keuntungan yang lebih besar.” Penyebab terjadinya hal buruk tersebut ditimpakan pada orang-orang tertentu, sama sekali tidak ada hubungan dengan partai, sedangkan jalan penyelesaiannya harus diarahkan pada “mutlak berdasarkan arahan pimpinan partai”. PKT menentukan semua berita yang akan disiarkan, seberapa jauh boleh disiarkan, apakah melalui media massa dalam negeri ataukah melalui media massa luar negeri yang condong kepada PKT. Dengan kemahiran tingkat tinggi “mengubah” berita buruk agar bisa menarik hati rakyat. Banyak pemuda di daratan Tiongkok merasa bahwa PKT memberi kebebasan dan keleluasaan dalam menyatakan pendapat, sehingga mereka lebih mencintai dan menaruh harapan besar pada PKT. Ini adalah korban dari taktik media jahat PKT yang “halus mulus”. Lebih jauh lagi PKT mengacaukan kondisi masyarakat dengan menyebarkan secukupnya berita buruk, yang mana dapat digunakan untuk mengintimidasi rakyat bahwa hanya dengan mengandalkan kekuatan kekuasaan PKT barulah situasi bisa dikendalikan, maka rakyat pun wajib melindungi kepentingan PKT.
Maka, bila melihat PKT mengeluarkan berbagai jurus untuk memperbaiki HAM, jangan mengira bahwa PKT telah melepaskan watak lama dan membuka lembaran baru. Ketika merebut kekuasaan dari tangan Partai Nasionalis, PKT pun tampil dengan wajah sebagai pejuang demokrasi. Watak dasar berandal PKT telah menentukan bahwa segala janji yang diucapkannya tidak dapat dipegang.

V. Beragam Tampang Berandal PKT
Menjual Tanah Negara demi Kebanggaan dan Mengkhianati Negara dengan Dalih Persatuan Bangsa
“Harus membebaskan Taiwan“ dan “Persatukan Taiwan dengan Tiongkok Daratan“ merupakan slogan propaganda PKT selama beberapa puluh tahun. Dengan propaganda seperti ini, PKT telah memperlihatkan diri seakan nasionalis dan patriotis. Apakah PKT sungguh-sungguh peduli dengan kesatuan territorial bangsa? Sama sekali tidak. Kasus Taiwan tak lain hanyalah permasalahan yang ditinggalkan sejarah akibat perseteruan antara PKT dengan Kuomintang (Partai Nasionalis), dan ini merupakan isu yang digunakan PKT untuk menyerang lawan dan menarik simpati rakyat.
Pada masa awal ketika PKT membentuk “Soviet Tiongkok“ di bawah pemerintahan Nasionalis, Pasal 14 dari UUD menyatakan “Setiap kelompok etnis minoritas bahkan propinsi dalam wilayah Tiongkok dapat mengklaim kemerdekaan“. Demi menunjukkan solidaritas kepada Uni Soviet, selanjutnya PKT juga mencetuskan slogan “Lindungi Soviet“. Dalam masa perang anti invasi Jepang, tujuan utama PKT adalah memanfaatkan peluang untuk mengembangkan kekuatannya dari pada memerangi penjajah Jepang. Pada 1945, Tentara Merah Soviet memasuki wilayah Timur Laut Tiongkok, dan melakukan perampokan dan pemerkosaan, juga ketika Uni Soviet mendukung pemberontakan kemerdekaan yang dilakukan bangsa di pinggiran Mongolia, PKT bungkam tidak mengutuknya sepatah kata pun.
Pada akhir 1999, PKT dan Rusia menandatangani Kesepakatan Pemetaan Perbatasan Tiongkok – Rusia, di mana PKT menyetujui seluruh isi perjanjian yang tidak adil yang pernah dibuat antara Dinasti Qing dengan Rusia lebih dari seratus tahun yang lalu, dan telah menjual lebih dari sejuta kilometer persegi wilayah negara, atau setara dengan belasan kali luas daratan Taiwan kepada Rusia. Pada 2004, PKT dan Rusia telah menandatangani Kesepakatan Tambahan mengenai Perbatasan Timur Tiongkok – Rusia, yang mana diberitakan, PKT kembali telah menyerahkan kedaulatan atas setengah dari Pulau Hexiazi di Propinsi Heilongjiang kepada Rusia.
Mengenai isu-isu perbatasan lainnya, seperti Kepulauan Nansha dan Pulau Diaoyu, PKT tidak menghiraukan sama sekali, karena tidak mempengaruhi kekuasaannya. PKT menggembar-gemborkan “Penyatuan Taiwan” sesungguhnya hanyalah untuk dijadikan kabut asap guna mengalihkan konflik intern dan membangkitkan patriotisme bangsa di dalam permainan berandalnya.
Berandal Politik Tanpa Kendali Moral
Suatu pemerintahan harus selalu diawasi. Pada negara-negara demokratis, ada pemisahan kekuasaan dalam sistem politiknya, ditambah dengan kebebasan mengutarakan pendapat dan kebebasan pers merupakan mekanisme pengawasan yang baik. Kepercayaan agama lebih-lebih telah memberikan pengendalian moral.
PKT mengembangkan atheisme, oleh karena itu tidak ada sifat-sifat KeTuhanan, yang dapat dijadikan pengendalian moral baginya. PKT menjalankan pemerintahan diktator, tidak ada hukum yang secara politik mengendalikan kekuasaannya. Akibatnya PKT tidak dapat dibendung dari kejahatan politiknya dan praktek tiraninya. Lalu bagaimana PKT menjelaskan kepada rakyat siapa yang berfungsi sebagai pengawas baginya? Menurut PKT, partai sendirilah sebagai pengawas bagi dirinya. Slogan seperti inilah yang selalu dihembuskan oleh PKT selama beberapa dekade untuk mengelabui rakyat. Pada awalnya dikenal sebagai “Otokritik“ kemudian sebagai “Oto pengawasan”, lalu sebagai “Swa penyempurnaan pimpinan partai”, terakhir dikenal sebagai “Swa peningkatan kemampuan partai untuk memerintah“. PKT selalu menekankan bahwa partainya memiliki apa yang disebut kemampuan besar untuk “memperbaiki diri”. PKT tidak hanya mengucapkan di mulut tapi telah melakukan tindakan nyata seperti mendirikan “Komisi Pusat Pengawasan Disiplin” dan “Kantor Pengaduan” dan lainnya yang serupa. Lembaga-lembaga ini sungguh memikat orang namun tidak bermanfaat, bagaikan vas-vas bunga yang hanya menarik sebagai hiasan dan mengelabui rakyat.
Tanpa kendali moral dan hukum, “perbaikan diri” PKT hanya dapat seperti pepatah kuno Tiongkok yang mengatakan bagaikan “Iblis yang muncul dari hati seseorang”. Sesungguhnya ini hanyalah dijadikan alasan bagi PKT untuk menolak pengawasan dari luar dan mencabut larangan kebebasan pers dan kebebasan mendirikan partai-partai politik. Adalah kedok dari berandal politik untuk mengelabui rakyat guna melindungi legalitas kekuasaannya dan kepentingan kelompoknya.
PKT ahli dalam memainkan tipu daya berandal politik. ”Diktator Demokrasi Rakyat”, “Demokrasi Terpimpin”, “Musyawarah Politik”, dan sebagainya semua adalah tipu muslihat, yang benar satu-satunya adalah kediktatoran.
Praktek Konspirasi dan Tipu Daya – Dari pura-pura melawan invasi Jepang sampai pura-pura melawan terorisme
PKT senantiasa mengklaim bahwa dialah yang memimpin seluruh rakyat mengalahkan invasi Jepang. Namun banyak sekali arsip sejarah yang mengungkapkan bahwa PKT secara sengaja telah menghindari pertempuran melawan Jepang. Sebaliknya PKT hanya sebagai pengganggu dalam perang melawan Jepang dengan mencuri peluang pada saat pertempuran Kuomintang dengan Jepang untuk memperkokoh kekuatan partai.
Satu-satunya pertempuran besar di mana PKT terlibat adalah “Peperangan Terusan Pingxing” dan “Peperangan Ratusan Resimen”. Dalam Peperangan Terusan Pingxing, PKT bukan merupakan pimpinan atau kekuatan inti yang mengendalikan peperangan. Tentara PKT sekedar menyergap satuan pasukan Jepang. Sedangkan dalam Pertempuran Ratusan Resimen, anggota PKT yang turut dalam peperangan dianggap telah melanggar strategi politik dari Pusat Partai. Setelah kedua pertempuran itu, Mao Zedong dan tentara PKT tidak pernah lagi terlibat dalam pertempuran serius, juga tidak lagi mencetak pahlawan perang melawan Jepang seperti Dong Cunrui (tahun 1948 dalam perang dengan Kuomintang), dan Huang Jiguang (semasa pertempuran melawan Korea). Hanya segelintir perwira tinggi PKT yang tewas di medan pertempuran melawan Jepang. Bahkan sampai hari ini PKT tidak dapat mengumumkan jumlah angka tokoh pahlawan dalam pertempuran melawan Jepang, juga sulit ditemui di daratan Tiongkok yang begitu luas, monumen penghargaan bagi pahlawan perang PKT yang melawan Jepang.
Pada saat itu, PKT telah membentuk Pemerintahan Wilayah Perbatasan di propinsi-propinsi Shaanxi, Gansu, dan Ningxia, yang jauh dari medan pertempuran. Dengan istilah sekarang disebut “satu negara dengan dua sistem”, atau “dua Tiongkok dalam satu negara Tiongkok”. Sekalipun ada perwira perang PKT yang tidak kurang semangatnya dalam melawan Jepang, namun para perwira tinggi PKT tidak sepenuh hati melawan Jepang. Sebaliknya mereka senantiasa mempunyai tujuan untuk melindungi kekuatan pokok mereka dan memanfaatkan peperangan sebagai kesempatan untuk memperkuat diri sendiri. Ketika Tiongkok dan Jepang menjalin kembali hubungan diplomatik ditahun 1972, Mao Zedong secara tidak sengaja mengatakan pada Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka bahwa sepantasnyalah PKT menyampaikan terima kasih kepada Jepang, karena tanpa adanya peperangan melawan Jepang, PKT mustahil memperoleh kekuasaan di Tiongkok. Ucapan itu adalah bukti kebohongan PKT yang mengklaim bahwa dialah yang telah memimpin seluruh rakyat Tiongkok untuk bertahan melawan Jepang selama delapan tahun, hingga pada akhirnya merebut kemenangan.
Setelah lebih dari setengah abad, dengan terjadinya serangan teroris terhadap AS, yang dikenal peristiwa 911, usaha gerakan anti terorisme telah menjadi perhatian seluruh dunia. PKT kembali menjalankan strategi penipuan berandal yang pernah dilakukan selama perang melawan Jepang, Dengan menggunakan dalih anti terorisme, PKT telah mencap banyak pengikut agama, para pembangkang, dan kelompok yang berkaitan dengan konflik suku maupun teritorial, sebagai teroris. Dengan kedok gerakan anti terorisme dunia, PKT melancarkan penindasan yang kejam secara besar-besaran.
Pada 27 September 2004, Kantor Berita Xinhua mengutip surat kabar Xinjing yang memberitakan bahwa Beijing mungkin akan mendirikan kantor anti-terorisme yang pertama mendahului propinsi dan kota-kota lain di Tiongkok. Beberapa media di luar negeri yang pro PKT bahkan telah memberitakan sebagai berita utama bahwa Kantor 610 telah bergabung dengan gerakan anti terorisme (Kantor 610 adalah salah satu lembaga pemerintah yang didirikan khusus untuk menganiaya pengikut Falun Gong), yang mengklaim bahwa kantor anti-terorisme seharusnya memusatkan perhatian pada penumpasan organisasi teroris, termasuk Falun Gong.
PKT membubuhkan label “teroris” pada mereka yang tidak bersenjata di tangan, yang tidak melawan walau dipukul dan difitnah, yang dengan damai memohon hak mereka untuk berkeyakinan. Dengan memanfaatkan fasilitas iklim anti terorisme, PKT telah memobilisasi “kesatuan khusus anti teroris”, yang dipersenjatai secara khusus, agar dapat melancarkan penindasan gerak cepat atas kelompok massa yang damai dan tanpa perlawanan. Lebih dari itu, PKT juga telah memanfaatkan dalih anti terorisme untuk mengalihkan perhatian internasional terhadap penyiksaan yang dilakukan atas para pengikut Falun Gong. Cara-cara busuk yang dipraktekkan PKT saat ini tidak berbeda dengan yang pernah dijalankan pada masa perang melawan Jepang, sungguh memalukan, cara seperti itu digunakan untuk mengatasi persoalan serius yang dihadapi dunia internasional yaitu perang anti-terorisme.
Ketulusan Palsu Secara Terbuka Menyatakan Setuju Padahal Dalam Hati Menentang
PKT sendiri tidak yakin pada doktrin mereka tapi memaksakan pihak lain untuk mempercayainya. Hal seperti ini adalah salah satu metode paling busuk yang dipraktekkan PKT. PKT tahu benar bahwa doktrin partainya adalah palsu, paham sosialisme adalah tidak benar, semua itu sudah dalam kehancuran, mereka sendiri juga sudah tidak percaya, tapi tetap memaksakan rakyat untuk mempercayainya. Mereka bahkan menghukum orang-orang yang tidak mempercayainya. PKT tanpa rasa malu telah mencantumkan doktrin penipuan mereka sebagai garis besar dari perundang-undangan negara Tiongkok.
Dalam kehidupan sehari-hari, ditemukan fenomena yang menarik. Banyak pejabat tinggi yang kehilangan kedudukannya karena terlibat kasus korupsi. Mereka itu umumnya terlihat sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi nilai kejujuran yang tidak mementingkan pribadi dalam rapat-rapat, tetapi di balik semua itu mereka biasa menerima suap, korupsi dan mempraktekkan berbagai tindakan tak bermoral. Banyak sekali dari mereka yang sebelumnya mendapat julukan “Abdi masyarakat” jatuh karena ternyata terlibat berbagai kasus, di antaranya Li Jiating mantan gubernur propinsi Yunnan; Liu Fangren, sekretaris partai untuk propinsi Guizhou; Cheng Weigao, sekretaris partai untuk propinsi Hebei; Tian Fengshan, menteri pertanahan dan sumber daya; dan Wang Huaizhong, wakil gubernur propinsi Anhui. Bila anda mempelajari pidato-pidato mereka, anda akan mendapatkan kesan, tanpa diragukan lagi, mereka adalah pendukung-pendukung kampanye anti-korupsi dan senantiasa menekankan bawahan mereka untuk berlaku jujur, padahal di balik itu mereka asyik mengumpulkan kekayaan dan menerima suap.
Walaupun PKT sering mempromosikan kader-kader teladan dan menarik orang-orang yang idealistik serta berprestasi untuk masuk menjadi anggota partai guna menaikkan pamor partai, namun jelas bagi kita semua betapa menyedihkan kondisi Tiongkok saat ini dengan kemerosotan tingkat moral yang begitu mengerikan. Mengapa propaganda PKT mengenai “peradaban spiritual” tidak dapat memperbaiki kondisi seperti ini?
Pada kenyataannya, para pimpinan PKT sesumbar dengan ucapan “kualitas moral komunis” atau slogan “melayani masyarakat”. Tidak konsistennya antara kata-kata dan tindakan para pemimpin komunis dapat ditemui dengan kilas balik hingga tokoh pencetusnya yaitu Karl Marx. Marx mempunyai seorang anak haram. Lenin menderita sipilis akibat berhubungan dengan pelacur-pelacur. Stalin dituntut hukuman karena merebut paksa seorang penyanyi. Mao Zedong adalah orang yang mengumbar nafsu birahinya. Jiang Zemin biasa melacur dengan siapa saja. Pemimpin komunis Romania Ceausescu telah membuat keluarganya luar biasa kaya. Pemimpin komunis Kuba Castro menimbun ratusan juta dollar di bank-bank di luar negeri. Pembunuh keji dari Korea Utara, Kim il Sung dan anak-anaknya menjalani hidup befoya-foya.
Dalam kehidupan sehari-hari, rakyat Tiongkok pada umumnya tidak menyukai diskusi-diskusi membahas masalah politik karena dianggap sesuatu yang munafik. Semakin lama mereka semakin menjauhi permasalahan politik, karena setiap orang tahu bahwa itu hanyalah permainan tipuan belaka. Mereka yang hadir dalam rapat terbiasa berbohong dalam hal-hal yang berhubungan dengan politik. Namun tidak seorang pun, baik si pembicara maupun si pendengar yang berani menyingkap tentang kebohongan itu. Semua ini adalah rahasia umum. Orang-orang menjulukinya “penipuan tulus”. Pemikiran dari PKT yang didengungkan, baik itu “Tiga Wakil” beberapa tahun yang lalu, atau yang belakangan dikenal sebagai “meningkatkan kemampuan memerintah” atau yang kini dikenal sebagai “Tiga Hati” - menghangatkan, menentramkan dan mendapatkan hati rakyat - semua itu adalah omong kosong. Partai berkuasa mana yang tidak mewakili kepentingan rakyat? Partai berkuasa mana yang tidak memperhatikan kemampuan memerintah? Partai berkuasa mana yang tidak berusaha merebut simpati rakyat? Partai apapun yang tidak memperhatikan hal-hal ini akan segera tergusur dari panggung politik. Tetapi PKT memperlakukan slogan-slogan itu secara berlebihan sebagai teori yang jelimet dan mendalam, yang menurutnya perlu dipelajari oleh setiap warga negara.
Bila watak “pura-pura berbuat“ secara halus tak terasa telah terbentuk dalam benak dan menjadi kebiasaan dari satu milyar lebih rakyat, juga telah menjadi fenomena “budaya partai”, maka seluruh masyarakat menjadi penuh kebohongan, hilang kejujuran dan kepercayaan. Masyarakat seperti ini dalam kondisi berbahaya. Untuk apa PKT menciptakan kondisi seperti ini? Di masa lalu, adalah demi ideologi, saat ini demi kepentingan partai. Meskipun sadar bahwa mereka sedang pura-pura berbuat, tapi tetap saja mereka lakukan. Seandainya PKT tidak berbuat demikian, maka ia tidak dapat menampakkan keberandalannya untuk menakut-nakuti rakyat. Ia tidak dapat mengancam rakyat untuk menurutinya.
Menyangkal suara hati dan mengorbankan keadilan demi kepentingan partai
Dalam buku “Pengembangan Mental Anggota Partai Komunis”, yang ditulis oleh Liu Shaoqi, diuraikan secara rinci, terutama dalam hal perlunya para anggota partai untuk menyatukan kepentingan pribadinya tanpa syarat kedalam kepentingan partai. Di antara anggota PKT dalam sejarah, tidak sedikit orang-orang yang memikirkan kepentingan negara dan rakyatnya, cukup banyak pejabat yang secara jujur dan tulus melayani masyarakat. Namun dalam mesin politik PKT yang diwarnai dengan kepentingan pribadi, para pejabat seperti itu tidak mempunyai prospek. Di bawah tekanan terus menerus untuk “menuruti sifat kemanusiaan sesuai sifat partai” sering kali mereka tidak dapat terus bertahan, mereka terpaksa memilih apakah menerima risiko dipindah tugaskan atau yang lebih buruk, turut berkorupsi.
Rakyat Tiongkok secara mendalam telah mengalami dan merasakan kekejaman rejim PKT dan dibuat takut mendalam terhadap kekuasaan kejahatan PKT. Oleh karena itu rakyat tidak berani menjunjung keadilan dan tidak lagi percaya akan hukum kebenaran. Pada awalnya mereka takluk kepada kekuasaan paksaan PKT. Bertahap mereka mulai mati rasa dan tidak mempedulikan hal-hal yang tidak berkaitan dengan mereka. Bahkan penalaran mereka secara sadar telah terpola untuk tunduk pada PKT. Semua ini adalah hasil dari watak kejahatan PKT yang menyerupai mafia.
PKT Memanipulasi Sentimen Patriotik untuk Menghasut Massa
PKT menggunakan slogan “patriotisme”dan “nasionalisme” sebagai gula-gula untuk memikat massa. Slogan-slogan itu tidak saja diteriakkan oleh pusat perhimpunan PKT, tetapi juga merupakan pesan-pesan yang biasa diterbitkan dan merupakan strategi yang telah teruji oleh waktu. Dengan membaca propaganda nasionalis pada harian People’s Daily edisi luar negeri, sebagian perantau Tionghoa, yang berpuluh-puluh tahun tidak berani kembali untuk tinggal di Tiongkok, akan menjadi lebih nasionalis dibandingkan mereka yang tinggal di daratan Tiongkok. Akibat manipulasi PKT, rakyat Tiongkok yang tidak berani menolak apa pun kebijaksanaan PKT, menjadi berani menyerang duta besar dan konsulat AS di Tiongkok, melempari dengan telur dan batu, membakar mobil dan bendera AS, semua itu dilakukan di bawah panji “patriotisme”.
Setiap saat ketika PKT menghadapi permasalahan yang memerlukan kepatuhan massa, selalu menggunakan “patriotisme” dan “nasionalisme” untuk menggerakkan massa dalam seketika. Dalam berbagai kasus, termasuk masalah yang berkaitan dengan Taiwan, Hongkong, Falun Gong, tabrakan antara pesawat pengintai AS dengan pesawat tempur Tiongkok, PKT selalu menggunakan metode gabungan antara teror berat dan pencucian otak secara massal, yang mana akan membawa rakyat dalam semacam suasana perang. Metode ini adalah serupa dengan yang digunakan oleh Fasisme Jerman.
Dengan memblokade sumber berita lainnya, pencucian otak yang dilakukan PKT sangat berhasil. Meskipun rakyat Tiongkok tidak suka kepada PKT, namun mereka sulit untuk berpikir menyimpang dari pemahaman PKT. Ketika AS memimpin perang menyerang Irak, sebagai contoh, banyak orang terhasut dengan melihat analisis harian di sentral TV Tiongkok. Mereka meluap dengan perasaan: kebencian, keinginan membalas dendam, dan dorongan untuk menyerang, tapi pada saat bersamaan mengutuk peperangan.
Tidak Mempunyai Rasa Malu – lebih mementingkan partai daripada negara dan memaksa rakyat menganggap maling sebagai orang tua mereka
Satu ungkapan yang sering digunakan oleh PKT untuk mengintimidasi rakyat adalah “kepunahan partai dan negara”, menempatkan partai pada posisi utama daripada negara. Prinsip dasar bagi pendirian negara adalah “Tanpa PKT maka tidak akan ada Tiongkok seperti sekarang”. Mulai masa kanak-kanak, rakyat dididik untuk “patuh kepada partai” dan “berperilaku sebagai anak partai yang manis”. Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian bagi partai: “Saya menganggap partai sebagai ibunda”, “Oh, partai, ibuku tercinta”, “Cinta kasih dari partai melebihi dalamnya samudra”, “Cinta ayah dan ibuku tak pernah melebihi cinta partai”. Sebagai kompas penunjuk arah gerakan adalah “partai menunjuk ke arah mana, maka kita menggempur ke arah sana”. Setiap kali pemerintah memberi bantuan atas terjadinya bencana, yang diucapkan rakyat adalah berterima kasih kepada partai dan pemerintah. Pertama kepada partai baru kemudian kepada pemerintah. Slogan militer berbunyi “Partai menguasai persenjataan”. Bahkan ahli perancang Tiongkok di saat merancang seragam untuk hakim pengadilan, mereka menempatkan empat buah kancing berwarna emas berjajar sepanjang leher baju, sebagai simbol partai, rakyat, hukum, dan negara. Hal ini mengindikasikan bahwa sekalipun anda seorang hakim, anda harus senantiasa menempatkan partai di atas hukum, negara, dan rakyat.
Partai menjadi yang utama di Tiongkok, sebaliknya negara menjadi bawahan dari partai. Negara eksis untuk partai, dan partai dianggap sebagai perwujudan dari rakyat dan lambang dari negara. Cinta kepada partai, pemimpin partai dan negara telah bercampur aduk, itulah alasan mendasar mengapa patriotisme di Tiongkok telah menyimpang.
Di bawah pengaruh yang halus tak terasa dari pendidikan dan propaganda PKT, banyak orang, baik anggota partai maupun bukan, mulai bingung untuk membedakan antara partai dan negara, entah mereka menyadarinya atau tidak. Mereka meyakini bahwa kepentingan partai harus didahulukan dari segala yang lain, dan setuju bahwa “kepentingan partai berarti juga adalah kepentingan rakyat maupun negara”. Dengan demikian telah menciptakan peluang bagi PKT untuk mengkhianati kepentingan negara.
Permainan Berganti Jubah, Merubah Perbuatan Kriminal Menjadi “Jasa Mulia”
PKT telah membuat banyak kesalahan dalam sejarah. Tapi selalu menimpakan kesalahan yang dibuatnya kepada pribadi atau golongan tertentu dengan ”berganti jubah dan rehabilitasi”. Hal seperti ini tidak saja membuat korban sangat berterima kasih kepada PKT, tapi juga memberi kesempatan kepada partai untuk sama sekali mengabaikan pertanggung jawaban atas perkara kejahatan. PKT tidak saja mengklaim bahwa dirinya “tidak segan membuat kesalahan, tapi juga piawai dalam memperbaikinya”. Praktek tersebut telah menjadi obat mujarab bagi PKT yang telah berkali-kali lolos dari akibat fatal kesalahannya. Dengan begitu PKT tetap “mulia, agung, dan benar”.
Mungkin suatu hari, PKT akan mengulangi permainan berganti jubahnya menyangkut peristiwa Pembantaian di Lapangan Tiananmen dan memulihkan reputasi Falun Gong. Tapi semua itu hanyalah taktik jahat yang biasa dilakukan PKT dalam keadaan putus asa untuk menyambung nyawa. PKT tidak akan mempunyai keberanian untuk merenungi dirinya, untuk membeberkan kasus-kasus kriminal yang pernah dibuat, atau mempertanggung jawabkan semua dosa-dosanya.
VI. PKT Menampakkan Wajah Berandal, Menggunakan Terorisme Negara dalam Usahanya untuk Membasmi “Sejati-Baik-Sabar”
Perbuatan penipuan “Bakar diri di lapangan Tiananmen” yang dilakoni oleh PKT dapat dikategorikan sebagai kebohongan terbesar oleh PKT dalam abad ke 20. Agar dapat menjatuhkan Falun Gong, pemerintah begitu jahatnya telah membujuk lima orang untuk berpura-pura sebagai pengikut Falun Gong dan memerankan pertunjukan pembakaran diri di lapangan Tiananmen. Kelima orang tanpa menyadari telah menandatangani pernyataan kesediaan untuk meninggal, baik meninggal dipukul saat berperan maupun setelah pertunjukan itu. Dalam adegan gerak lambat dari pembakaran diri yang ditayangkan oleh sentral TV Tiongkok tidak diragukan lagi menunjukkan bahwa Liu Chunling, salah seorang dalam pembakaran diri, adalah meninggal akibat pukulan keras oleh petugas polisi. Kejanggalan lainnya adalah posisi bersila dari Wang Jingdong, botol plastik (yang diduga berisi bensin) masih menggantung di antara kedua pahanya setelah api berhasil dipadamkan, percakapan antara wartawan dengan korban termuda Liu Suying, dan kehadiran kameramen yang siap merekam kejadian. Fakta-fakta itu dan lainnya merupakan bukti yang cukup bahwa peristiwa pembakaran diri adalah sandiwara tipuan busuk yang dirancang oleh rejim berandal Jiang Zemin untuk mencelakakan Falun Gong.
Sebuah parpol menggunakan metode keji dan kejam untuk menumpas Falun Gong, Dia telah mengerahkan sumber keuangan negara yang terakumulasi sejak reformasi 20 tahun yang lalu. Dengan menggerakkan partai, pemerintahan, militer, polisi, mata-mata, diplomat asing, dan masih banyak organisasi baik pemerintah maupun kalangan rakyat. Memanipulasi sistem media yang menjangkau seluruh dunia, melakukan blokade informasi secara ketat dengan memonitor secara pribadi maupun dengan teknologi canggih. Semua itu dilakukan semata-mata untuk menghadapi kelompok damai yang mengolah kesehatan raga dan jiwa. Perbuatan demikian merupakan penyingkapan besar-besaran dari watak hakiki kejahatan PKT.
Tak pernah ada sebelumnya dalam sejarah, seorang penjahat yang berbohong sebusuk Jiang Zemin dan PKT. Mereka menggunakan berbagai kebohongan yang masing-masing dirancang khusus untuk memanipulasi gagasan tertentu yang diyakini setiap orang, dengan begitu orang-orang sangat mudah menjadi korban kebohongan, dan partai berhasil menghasut kebencian terhadap Falun Gong. Apabila anda percaya pada ilmu pengetahuan, PKT mengatakan bahwa Falun Gong adalah takhayul. Apabila anda antipati terhadap politik, PKT mengatakan bahwa Falun Gong mempraktekkan politik. Apabila anda cemburu kepada orang yang menjadi kaya kemudian pergi ke luar negeri, PKT mengatakan bahwa Falun Gong mengumpulkan kekayaan. Apabila anda tidak menyukai organisasi, PKT mengatakan bahwa Falun Gong mempunyai organisasi yang rapih. Apabila anda bosan dengan pemujaan tokoh yang telah berlangsung berpuluh tahun, PKT mengatakan bahwa Falun Gong melakukan manipulasi mental. Apabila anda seorang pendukung patriotisme, PKT mengatakan bahwa Falun Gong anti Tiongkok. Apabila anda seorang yang takut akan pergolakan, PKT mengatakan bahwa Falun Gong merusak kestabilan. Seandainya anda mengatakan bahwa Falun Gong menjunjung Sejati-Baik-Sabar, PKT mengatakan bahwa Falun Gong tidak sejati, tidak baik dan tidak sabar. PKT bahkan menyesatkan penalaran, mengatakan bahwa belas kasih dapat membangkitkan keinginan untuk membunuh.
Apakah anda yakin pemerintah tidak akan membuat kebohongan lebih lanjut? PKT bahkan lebih banyak dan lebih heboh lagi membuat kebohongan. Mulai dari kasus mencelakakan diri sampai bunuh diri dan pembakaran diri, dari membunuh anggota keluarga sampai membunuh orang lain, dari membunuh satu orang sampai membunuh sekelompok orang--- begitu banyak kebohongan yang membuat anda sulit untuk tidak mempercayainya. Seandainya anda adalah seorang simpatisan Falun Gong, maka PKT akan mengaitkan penilaian politik anda dengan Falun Gong, seandainya salah seorang praktisi di lingkungan anda berunjuk rasa ke Beijing, anda akan diturunkan pangkat atau jabatan, dipecat, atau dipotong bonusnya. Pendek kata anda dipaksa untuk memusuhi Falun Gong.
PKT telah menculik sangat banyak praktisi Falun Gong dan memasukkan mereka ke dalam lembaga pencucian otak dalam usahanya agar mereka mau melepaskan keyakinannya yang sejati, mencela Falun Gong, dan berjanji untuk tidak berlatih lagi. PKT menggunakan berbagai cara busuk untuk membujuk mereka, antara lain melalui sanak famili, majikan, dan fasilitas pendidikan untuk menekan mereka, menghukum mereka dengan berbagai cara penyiksaan kejam bahkan dengan mengancam anggota keluarga dan kawan dekatnya. Pengikut Falun Gong yang telah berhasil dicuci otaknya lalu digunakan untuk ambil bagian dalam mencuci otak pengikut Falun Gong lainnya. PKT yang jahat mendesak orang baik menjadi jahat dan memaksa mereka menjalani hidup di jalan yang gelap.
VII. Sosialisme Berandal Karakter Khas Tiongkok
Istilah “Karakter Khas Tiongkok” biasa digunakan sebagai tameng dari kejahatan-kejahatan yang dibuat PKT. PKT selalu menggembar-gemborkan bahwa keberhasilan revolusinya adalah hasil dari “integrasi Marxisme-Leninisme dengan revolusi yang terjadi di Tiongkok”. PKT senantiasa menyalahgunakan istilah “Karakter Khas” sebagai pelicin ideologi bagi gerakan politiknya yang jahat dan berubah-ubah.
Cara yang Berubah-ubah dan Mengelabui
Dengan merek “Karakter khas Tiongkok” yang sifatnya berandal, tidak ada yang dicapai oleh PKT kecuali kepalsuan dan hal-hal yang ganjil, absurd.
Tujuan dari revolusi PKT adalah merealisasi sistem kepemilikan bersama atas barang-barang produksi. Prinsip ini telah mengelabui banyak kaum muda untuk bergabung dengan partai demi idealisme dalam kesatuan partai. Sebagian dari mereka bahkan telah berkhianat terhadap sanak keluarga yang memiliki kekayaan. Tapi setelah 83 tahun sejak berkuasanya PKT, kapitalisme telah kembali lagi, sekarang telah menjadi bagian dari PKT, yang sebelumnya menjunjung kesama-rataan.
Sekarang, banyak di antara anak-anak dan keluarga pemimpin PKT adalah neokapitalis yang kaya raya, dan banyak anggota partai yang berusaha menjadi satu anggota dalam barisan orang-orang kaya baru. PKT membasmi kaum tuan tanah dan kapitalis serta merampas kekayaan mereka dengan mengatas-namakan revolusi. Saat ini elite baru PKT telah menjadi lebih kaya dari kaum kapitalis dengan cara kolusi dan korupsi. Bagi mereka yang dahulu turut berjuang dalam revolusi mendirikan dunia komunis hanya dapat berkata: “Seandainya dulu saya tahu keadaan akan menjadi seperti hari ini, saya tidak akan pernah turut didalamnya”. Setelah sekian puluh tahun turut berjuang dengan setia, mereka mendapatkan bahwa diri mereka telah kehilangan saudara, ayah, harta kekayaan, bahkan telah mempersembahkan seumur hidup mereka kepada agama sesat PKT ini.
PKT mengemukakan struktur tingkat atas ditentukan oleh fondasi ekonomi, namun kenyataannya fondasi ekonomi birokrasi dari para pejabat korup PKT lah yang menentukan struktur tingkat atas yang berciri menindas. Dari itulah menindas rakyat telah menjadi dasar politik PKT.
Satu lagi ciri khas kejahatan PKT adalah memanipulasi dan merubah definisi dari suatu konsep apa pun dalam kebudayaan manusia lalu menggunakannya untuk mengritik dan mengendalikan orang-orang. Salah satu contohnya adalah konsep “partai”. Sesungguhnya sejak dulu fenomena berpartai telah ada dalam masyarakat manusia. Hanya partai komunislah yang mempraktekkan kekuasaannya terhadap para anggota di luar kewenangannya. Setelah anda bergabung dengan partai, maka partai akan mengawasi segala segi kehidupan anda, bahkan hati nurani anda, mata pencarian, sampai kehidupan pribadi anda. Ketika memperoleh kekuasaan, PKT akan mengawasi masyarakat, pemerintah, dan segenap alat negara mulai dari hal-hal penting seperti, siapa yang harus menjadi pimpinan negara, siapa yang layak menjadi menteri pertahanan, bahkan peraturan dan hukum yang akan ditetapkan, sampai hal-hal sepele seperti di mana seseorang seharusnya tinggal, dengan siapa sepantasnya seseorang menikah, hingga berapa anak seseorang boleh memiliki. PKT selalu memikirkan berbagai cara pengontrolan tersebut.
Dengan mengatas-namakan dialektika, PKT telah merusak semua cara pemikiran filosofi yang sempurna dan harmonis, kemampuan berpikir sehat, dan semangat untuk menyelidiki. PKT mengemukakan “pembagian sesuai sumbangsih” untuk mewujudkan “pemberian kesempatan kepada sebagian orang untuk menjadi kaya lebih dulu”, ternyata adalah “pembagian berdasarkan kekuasaan”. Dengan kedok “melayani masyarakat sepenuh hati” PKT membohongi mereka yang mempunyai cita-cita serupa, lalu mencuci otak mereka dan mengendalikannya. Secara bertahap merubah mereka menjadi alat yang patuh untuk “sepenuhnya melayani kepentingan partai” dan tidak mempunyai keberanian menyuarakan pemikiran masyarakat.
Partai Jahat yang “Berkarakter Khas Tiongkok”
Dengan prinsip junjunglah kepentingan partai melebihi segala-galanya, PKT telah merusak tatanan masyarakat Tionghoa dengan cara busuk, telah menciptakan sesuatu yang aneh dalam masyarakat manusia. Sesuatu ini berbeda dengan negara lain, pemerintahan lain, dan organisasi lainnya. Prinsip mereka adalah “tanpa prinsip”, tidak ada ketulusan di balik senyumnya. Orang-orang yang berhati baik tidak dapat memahami PKT. Berdasarkan standar moral universal, mereka tidak dapat membayangkan sesuatu yang begitu berandal dapat mewakili suatu negara. Dengan dalih “karakter khas Tiongkok”, PKT memijakkan dirinya di antara bangsa-bangsa di dunia. “Karakter Khas Tiongkok” telah dijadikan ungkapan pelembut bagi “karakter Kejahatan khas PKT”.
Dengan tameng “karakter khas Tiongkok”, kapitalisme timpang di Tiongkok disamarkan menjadi “sosialisme khas Tiongkok”; “pengangguran” disebut sebagai “penunggu kerja”; mereka yang di PHK dikatakan “dibebas-tugaskan”; “kemiskinan” disebut sebagai “tahap awal dari sosialisme”; “hak asasi manusia” yang bebas berbicara serta berkeyakinan digantikan dengan “hak untuk hidup”.
Negara Dilanda Kejahatan, Bangsa Tionghoa Menghadapi Krisis Moral yang belum pernah Dialami Sebelumnya
Sekitar awal tahun 1990an, di Tiongkok terkenal dengan sebuah ucapan “saya adalah penjahat, saya tidak takut kepada siapa pun”. Ini adalah konsekuensi dari beberapa puluh tahun praktek kejahatan pemerintahan PKT, yang mendorong negara dilanda kejahatan. Sejalan dengan kemakmuran ekonomi yang semu dari Tiongkok, adalah kemerosotan moralitas yang luar biasa dari segenap masyarakat.
Para utusan Kongres seringkali menyuarakan masalah “kejujuran dan kepercayaan” dalam Kongres Rakyat Tiongkok. Pada saat ujian saringan masuk perguruan tinggi, calon mahasiswa diminta untuk mengarang dengan tema “kejujuran dan kepercayaan”. Semua itu adalah pertanda bahwa hilangnya kejujuran dan kepercayaan serta kemerosotan moral telah merupakan krisis besar yang tidak terlihat namun terjadi di mana-mana dalam masyarakat Tiongkok. Korupsi dan kebobrokan, membanjirnya produk palsu, penipuan yang telah menjadi kebiasaan, busuknya hati manusia, dan melemahnya norma-norma sosial terjadi di mana-mana. Tidak ada lagi saling percaya yang mendasar di antara sesama anggota masyarakat.
Bagi mereka yang menyatakan diri puas dengan perbaikan tingkat kehidupan, bukankah paling menaruh perhatian pada ketentraman hidup? Apa sesungguhnya yang menjadi faktor utama dari ketentraman hidup? Tak lain adalah moralitas. Masyarakat dengan moralitas bobrok tidak akan ada jaminan keselamatan.
Dengan berlalunya waktu hingga sekarang, PKT telah menghancurkan hampir seluruh agama tradisional dan melucuti tatanan nilai tradisional. Cara-cara tidak bermoral dari PKT dalam melirik kekayaan serta membohongi rakyat, dijadikan contoh oleh lapisan bawah, akibatnya dengan cepat terbentuklah masyarakat berperilaku korup dan jahat. PKT, yang memerintah dengan berbagai cara jahat, pada dasarnya memerlukan lingkungan yang buruk agar dapat bertahan hidup. Itulah alasannya mengapa PKT berusaha sedapat mungkin ingin menjerembabkan rakyat turun ke air, dan merubah rakyat Tiongkok menjadi penjahat-penjahat besar dan kecil pada tingkat-tingkat yang berbeda. Dengan cara seperti itulah PKT yang berwatak dasar jahat membenamkan nilai-nilai dasar moral yang sejak lama menopang kehidupan bangsa Tionghoa.
Penutup
Adalah lebih mudah membelokkan sungai dan menyingkirkan gunung dari pada merubah tabiat seseorang. Sejarah telah membuktikan setiap kali PKT melonggarkan rantai dan belenggu, bukanlah bermaksud membebaskan rakyat. Setelah bencana kelaparan nasional di awal 1960an, PKT pernah memprogramkan “Tiga Mandiri dalam Satu Paket” (San Zi Yi Bao) yang bertujuan meningkatkan hasil pertanian, namun bukan bertujuan untuk merubah status “budak” dari para petani Tiongkok. “Reformasi ekonomi” dan “liberalisasi” sekitar 1980-an tetap saja tidak mempengaruhi PKT menebaskan pisau jagalnya pada rakyatnya sendiri di tahun 1989. Selanjutnya ke depan PKT akan selalu merubah penampilannya, tetapi mutlak tidak pernah merubah watak dasarnya yang jahat.
Mungkin saja ada orang berpendapat, masa lalu biarkanlah berlalu, situasi kini telah berubah. PKT kini tidaklah sama seperti PKT di masa lalu. Orang merasa puas dengan wujud palsu di depan mata, bahkan dengan keliru menganggap PKT kini telah bereformasi, atau dalam proses reformasi, atau berniat melakukan reformasi, dengan demikian lalu melupakan kenangan buruk tentang PKT. Semua itu berarti telah memberikan kesempatan dan lahan bagi kelompok jahat PKT untuk tetap hidup dan mencelakakan manusia.
PKT berusaha sedapat mungkin membuat rakyat melupakan masa lalu. Sedangkan semua usaha rakyat yang meronta-ronta, adalah justru mengingatkan orang akan segala kekejaman dan ketidak-adilan dari PKT, yang mereka derita di masa lalu.
Pada realitasnya, sejarah PKT adalah sebuah sejarah yang membelah ingatan rakyat. Agar generasi berikutnya tidak jelas mengenai apa yang dialami generasi sebelumnya, adalah lembaran sejarah di mana ratusan juta warga negara hidup dalam konflik berat antara mencaci PKT karena perbuatan berdarah di masa lalu, dan menaruh harapan kepada PKT untuk masa akan datang.
Ketika roh jahat komunisme turun ke dunia manusia, Partai Komunis memanfaatkan pemberontakan jahat dan revolusi para bandit untuk merebut kekuasaan dan memijakkan kakinya di atas dunia. Apa yang telah diperbuat dengan kekuasaan zalimnya, adalah untuk membangun dan mempertahankan sebuah masyarakat radikal yang berpola “dirasuki partai”. Dengan berkedok ideologi “perjuangan” yang menentang hukum alam, hukum langit, kodrat manusia dan alam semesta, Partai Komunis telah menghancurkan hati nurani dan sifat kebajikan manusia. Lebih dari itu telah merusak peradaban dan moralitas manusia, dengan pembantaian berdarah dan pemaksaan cuci otak untuk membentuk penyembahan terhadap komunisme, menciptakan bangsa dengan pemikiran sesat komunisme agar ia dapat berkuasa. Sepanjang sejarah, Partai Komunis pernah mengalami masa penuh dengan kekerasan di mana teror komunis mencapai puncaknya, juga masa kocar kacir di mana Partai Komunis nyaris menemui ajalnya. Setiap kali, Partai Komunis mengandalkan permainan berandalnya agar dapat melewati kondisi krisis, untuk dapat memasuki babak kekejaman berikutnya, dan melanjutkan pembohongan terhadap rakyat.
Apabila orang-orang dapat mengenali watak dasar kejahatan dari Partai Komunis, dan tidak terkelabui oleh kepalsuannya, maka itulah saat tamatnya bagi PKT beserta watak dasar kejahatannya. Dibandingkan dengan 5.000 tahun sejarah bangsa Tionghoa, 55 tahun masa kekuasaan PKT hanyalah berupa sekilas pandang. Sebelum kehadiran PKT, bangsa Tiongkok telah menciptakan peradaban yang paling gemilang dalam sejarah umat manusia. PKT memanfaatkan peluang di saat Tiongkok terjadi masalah pertikaian dalam negeri dan penyerangan pihak asing untuk menduduki posisi mantap, yang mana telah mendatangkan malapetaka besar bagi bangsa Tionghoa. Malapetaka tersebut tidak hanya membawa korban jiwa manusia berjumlah puluhan juta serta hancurnya keluarga yang tak terhitung, juga telah mengorbankan sumber ekosistem yang menjadi tumpuan hidup bangsa Tionghoa. Yang lebih parah lagi ialah, sumber moralitas dan tradisi budaya yang luhur dari bangsa Tionghoa hampir seluruhnya dirusak.
Seperti apa masa depan Tiongkok? Ke arah mana Tiongkok akan dibawa? Pertanyaan-pertanyaan serius seperti ini sangatlah sulit untuk dibicarakan hanya dengan beberapa kata saja. Namun satu hal yang pasti – seandainya tidak ada pembaharuan moral bangsa, tidak ada pengenalan yang jelas hubungan antara umat manusia dengan alam, dengan manusia, dengan langit dan bumi, bila tidak ada keyakinan dan kebudayaan untuk keharmonisan hidup antar manusia, mustahil bagi bangsa Tionghoa untuk memiliki masa depan yang gemilang.
Setelah menjalani pencucian otak dan tekanan luar biasa selama puluhan tahun, PKT telah menanamkan cara berpikirnya tentang nilai-nilai standar mengenai kebaikan dan keburukan kedalam benak jiwa bangsa Tionghoa. Sehingga membuat orang-orang Tionghoa dalam taraf tertentu menerima dan menganggap wajar praktek curang dan licik dari PKT, dan telah menjadi bagian darinya, dengan begitu telah memberikan fondasi bagi keberadaan dan tumbuhnya ideologi PKT.
Membersihkan segala teori sesat yang diindoktrinasikan PKT dari dalam jiwa. Mengenali dengan jelas sifat hakiki PKT yang lengkap dengan sepuluh kejahatannya. Membangunkan kembali watak manusia dan hati nurani sebagai manusia. Semua itu merupakan jalan yang harus dilalui untuk melangkah dengan lurus menuju ke masyarakat non komunis, juga merupakan langkah pertama yang diharuskan.
Jalan tersebut dapatkah dilalui dengan mantap dan damai? Itu tergantung dari perubahan yang spontanitas dari setiap orang Tionghoa. Walaupun PKT di permukaan memiliki segala sumber daya dan mesin kekerasan dari sebuah negara, namun jika setiap orang dapat yakin akan kekuatan kebenaran, teguh mempertahankan moral kita, maka roh jahat PKT akan kehilangan tempat untuk bertahan hidup. Segala sumber daya ada kemungkinan dalam sekejap kembali ke tangan orang-orang yang menjunjung keadilan, itu saatnya yang tepat bagi kelahiran kembali bangsa Tionghoa.
Tanpa keberadaan PKT, baru dapat terwujud Tiongkok baru.
Tanpa keberadaan PKT, Tiongkok baru akan mempunyai prospek.
Tanpa keberadaan PKT, rakyat Tiongkok yang adil dan baik hati pasti dapat membangun kembali kegemilangan sejarah.
(tamat)

 

Posted by MUSLIH SUMANTRI in

Memaknai Kembali Jihad
Oleh M. Guntur Romli

Ketika kita membaca beberapa literatur Islam klasik dalam masalah jihad, makna peperangan merupakan makna yang baku bagi jihad. Mulai dari para ulama tafsir, hadis, dan fikih, yang telah sedemikian kuatnya “mengunci” jihad dalam makna peperangan saja. Ahli tafsir menyamakan ayat-ayat jihad dengan ayat-ayat pedang dan perang. Pertanyaannya kemudian, benarkah jihad identik dengan peperangan sebagaimana pendapat ulama-ulama di atas?
Pidato Paus Benediktus XIV beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa konsep jihad dalam Islam identik dengan pedang dan kekerasan, ditanggapi kemarahan yang tak wajar oleh umat Islam. Saya katakan tak wajar, karena seolah-olah umat Islam memandang bahwa menyamakan jihad dengan peperangan merupakan sebuah kesalahan yang fatal dan tidak dikenal dalam Islam.
Padahal kalau mau sedikit jujur, pemahaman tersebut berasal dari pandangan mayoritas umat Islam dari dulu hingga sekarang. Bahkan, bagi kalangan Islam radikal makna jihad yang sebenar-benarnya hanyalah satu: peperangan. Demikianlah Usamah Bin Ladin bersama kelompoknya Tandzim al-Qaidah ”membumikan” doktrin jihad. Pun bagi mereka yang menebarkan aksi-aksi teror di Indonesia. Hingga peristiwa yang terbaru. Muhammad Nuh ”berjihad” di Restoran A & W Kramat Jati bulan kemaren.
Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam buletin rutinnya, al-Islam edisi 280 (25/11/2005) mengutip pendapat tokoh pendirinya, Taqiyudin al-Nabhani. Menurut dia, jihad adalah upaya mengerahkan segenap kekuatan dalam perang fi sabilillah (di jalan Allah). Demikian juga menurut kelompok Salafi-jihadi, jihad bermakna peperangan (al-qitâl) dan pembunuhan (al-ightiyâl). Kita bisa menyidik ideologi kelompok ini dalam karya-karya yang ditulis oleh para ideolog mereka di beberapa website seperti abu-qatada.com, tawhed.ws, dan almaqdese.net.
Membaca buku-buku mereka membuat bulu kuduk saya berdiri. Misalnya sebuah buku berjudul Tahrîdlu-l Mujâhidîn-al Abthâl ‘Alâ Ihyâ’i Sunnati-l Ightiyâl (Mengobarkan Semangat Para Pahlawan-Pejuang untuk Menghidupkan Tradisi Pembunuhan). Karya dari seorang ideolog kelompok Tandzim al-Qaidah bernama, Abu Jandal al-Azdi. Menurut pengakuannya sendiri, judul buku ini terinspirasi dari sepotong ayat 65 dari Surat al-Anfâl (Harta Rampasan Perang) yang berbunyi, ”Ya ayyuha al-nabî harridli-l mu’minîn ’ala-l qitâl” (Hai Nabi, kobarkan semangat orang-orang mukmin untuk berperang).
Abu Jandal adalah nama samaran. Nama aslinya Ali Faris al-Syuwail al-Zahrani. Ia alumnus Fakultas Syariah Islamiyah di Universitas Islam Saudi Arabia. Dalam buku ini, Abu Jandal membenarkan praktik-praktik pembunuhan terhadap musuh Islam: orang kafir, musyrik, dan murtad. Ia mengutip sepotong ayat 5 dari Surat al-Tawbah, ”waq’udû lahum kulla marshad” (dan tunggulah mereka pada tiap tempat pengintaian). Baginya ayat ini adalah dalil yang menghalalkan pembunuhan terhadap musuh Islam. Meskipun mereka belum disuguhkan dakwah dan peringatan (h. 8-9). Untuk memperkuat pendapatnya, ia mengutip sejumlah pendapat para ahli tafsir klasik seperti al-Qurthubi, Ibn Katsir, Ibn al-‘Arabi, dan seorang tokoh panutan mujahidin Afghanistan Abdullah Azzam.
Khazanah Klasik Islam
Ketika kita membaca beberapa literatur Islam klasik dalam masalah jihad, makna peperangan merupakan makna yang baku bagi jihad. Mulai dari para ulama tafsir, hadis, dan fikih, yang telah sedemikian kuatnya “mengunci” jihad dalam makna peperangan saja. Ahli tafsir menyamakan ayat-ayat jihad dengan ayat-ayat pedang dan perang. Para ulama hadis meriwayatkan hadis-hadis Nabi yang dominan memantulkan konteks peperangan. Selanjutnya ulama fikih menyudahi bahwa jihad dalam makna syariat Islam adalah peperangan melawan musuh Islam.
Seorang ulama hadis yang ternama, Ibnu Hajar Al-Asqalani (2000: 77) yang juga komentator (al-syârih) terhadap hadis-hadis yang dikumpulkan oleh al-Bukhari memberikan definisi jihad sebagai badzl al-juhd fi qitâl al-kuffâr (mengerahkan kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir). Demikian juga Muhammad bin Ismail Al-Kahlani, pengarang kitab Subul al-Salâm komentar atas kitab Bulûgh al-Marâm karya Ibnu Hajar Al-Asqalani—dua kitab ini sangat terkenal di dunia pesantren di Indonesia—memaknai jihad sebagai badzl al-juhd fi qitâl al-kuffâr aw al-bughât (mengerahkan kemampuan untuk memerangi orang kafir dan pemberontak).
Mayoritas ulama fikih juga sepakat dengan definisi itu. Fikih madzhab Hanafî memaknai jihad sebagai ajakan pada agama yang benar, jika orang yang diajak enggan, maka mereka diperangi dengan harta dan jiwa (al-du‘â ilâ al-dîn al-haq wa qitâl man lam yaqbalhu bi al-mâl wa al-nafs). Adapun definisi madzhab-madzhab lain kurang lebih seirama dengan definisi madzhab Syâfi’î, yaitu; memerangi orang-orang kafir untuk memenangkan Islam (qitâl al-kuffâr li nashr al-Islâm).
Tidak hanya mayoritas ulama fikih klasik yang membakukan makna jihad pada peperangan, ulama fikih kontemporer juga berpendapat sama. Prof. Wahbah al-Zuhaylî dalam bukunya, al-Fiqh al-Islâmî wa Adillatuhu (1989: 413-414) mendefinisikan jihad sebagai berikut: mengerahkan kemampuan dan kekuatan untuk memerangi dan melawan orang-orang kafir dengan jiwa, harta dan lisan (badzl al-wus’i wa al-thâqah fi qitâl al-kuffâr wa mudâfa’atihim bi al-nafs, wal mâl, wal lisân).
Perbedaan Ayat-ayat Jihad dan Qital
Pertanyaannya kemudian, benarkah jihad identik dengan peperangan sebagaimana pendapat ulama-ulama di atas? Jika kita mau merujuk kembali pada ayat-ayat Al-Quran jawabannya adalah tidak. Setelah saya lacak, Al-Quran menggunakan dua istilah yang berbeda namun maksudnya sering disamakan yaitu: jihâd dan qitâl. Jihâd berarti perjuangan dalam arti yang umum, sementara qitâl berarti peperangan. Maka, apabila Al-Quran menggunakan âyât al-jihâd (ayat-ayat jihad) artinya adalah perjuangan dalam makna yang umum, sementara bila menggunakan âyât al-qitâl wa al-sayf (ayat-ayat perang dan pedang) artinya sudah khusus yaitu peperangan.
Perbedaan dua istilah yang digunakan oleh Al-Quran tadi berpulang pada dua sebab. Pertama, ayat-ayat jihad telah turun semenjak periode Islam Makkah yang dikenal pada periode itu tidak pernah terjadi satupun peperangan. Jihad dalam periode Islam Makkah adalah “jihad non-perang”, dan sangat mustahil bila jihad pada periode itu dimaknai dengan peperangan. Jihad yang bukan qital ini bisa kita temukan di Surat al-Furqan ayat 52, al-Nahl ayat 110, Luqman ayat 15, dan al-Ankabut ayat 69. Sementara ayat-ayat qital hanya turun pada periode Madinah yang penuh dengan gemuruh peperangan.
Kedua, lisensi peperangan menggunakan ayat-ayat qital secara jelas (sharih), bukan dengan ayat jihad. Dalam surat al-Hajj ayat 39 disebutkan, telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi (li al-ladzîna “yuqâtalûna”). Demikian juga, dalam surat al-Baqarah ayat 190, dan perangilah (qâtilû) orang-orang yang memerangimu (al-ladzîna yuqâtalûnakum). Nah, ketika ayat-ayat jihad kembali turun pada periode Madinah, tidak terelakkan muncul makna kontekstual “jihad” waktu itu; yaitu peperangan. Dari sinilah sumber masalah muncul: menyamakan atau menafsirkan ayat jihad dengan ayat qital.
Bisa saja kita memaklumi apabila ada yang menafsirkan ayat-ayat jihad sebagai peperangan, karena, penafsiran tersebut berdasarkan pada konteksnya. Lazimnya sebuah penafsiran tidak akan bisa bebas dari subjektifitas penafsir khususnya konteks dimana penafsir itu berada. Namun yang tidak bisa dibenarkan sama sekali adalah “mengunci” jihad dalam makna peperangan saja.
Oleh sebab itu, menurut Gamal al-Banna—adik bungsu pendiri Ikhwanul Muslimin: Hasan al-Banna—dalam bukunya al-Jihâd, dua istilah ini: jihad dan qital harus dibedakan secara jelas dan tegas. Jihad tidak identik dengan qital, meskipun qital para zaman Nabi merupakan salah satu bentuk dari jihad. Baginya jihad adalah mabda’ (prinsip) yang abadi dalam arti dan bentuk yang umum dan seluas-luasnya, sedangkan perang hanyalah wasilah, yang tidak prinsipil, dan sangat situasional.
Hadis-hadis Nabi yang sejumlah besar mengisahkan jihad dalam bentuk peperangan saja disebabkan problem konteks juga. Hadis-hadis Nabi yang sampai pada kita adalah kumpulan riwayat pada periode Madinah. Maka dapat dipastikan makna jihad pun identik dengan konteks itu. Sebuah babak yang dipenuhi dengan kecamuk peperangan. Dalam beberapa literatur hadis Nabi, kita tidak akan pernah menemukan hadis-hadis jihad yang bersumber dari periode Makkah. Hilangnya satu periode dari dua periode tersebut menyebabkan pemahaman terhadap doktrin jihad ini “timpang”. Tidak ada jihad non perang sebagai karakter Islam Makkah seperti yang ditujukkan oleh ayat-ayat Al-Quran di atas.
Betapa mudahnya kita akan menjumpai hadis-hadis Nabi yang bisa merangsang dan memerintahkan peperangan. Seperti sebuah hadis riwayat Al-Bukhari nomor 2818, “Ketahuilah sesungguhnya sorga (terletak) di bawah kilatan pedang (al-jannah tahta dzilâl al-suyûf).” Demikian juga hadis-hadis lain yang acap kali dijadikan sebagai kekuatan ideologi kelompok Islam garis keras. Misalnya sebuah kitab yang ditulis oleh Ibn Baththah al-Hanbali, Sab’ûn Hadîtsan fi al-Jihâd (Tujuh puluh Hadis tentang Jihad). Buku ini memuat tentang keutamaan, tatacara, dan sejarah jihad dalam arti peperangan.
Di samping hadis-hadis jihad yang bernafaskan kekerasan seperti di atas, memang ada beberapa hadis Nabi yang berusaha memberikan bentuk jihad non-perang. Tapi jumlah hadis jenis ini bisa dihitung dengan jari. Seperti hadis riwayat Ibn Majah: haji dan umrah adalah jihad yang tidak ada peperangan (jihâd lâ qitâla fîhi). Hadis lain riwayat al-Bukhari dan Muslim, berbakti pada orang tua merupakan jihad. Hadis riwayat Abu Dawud, al-Tirmidzi dan Ibn Majah: kritik yang benar terhadap pemimpin yang zalim termasuk jihad. Hadis riwayat al-Daylami dari Abu Dzar Al-Ghifari, Sebaik-baiknya jihad adalah berjuang melawan hawa nafsu karena Allah. Namun, kumpulan hadis jenis ini, seolah-olah tenggelam dalam timbunan hadis-hadis perang.
Adapun kekurangan ulama klasik Islam, menurut hemat saya, tidak melakukan penelitian secara seksama dan menyeluruh terhadap sejarah dan makna jihad. Mereka lebih menekankan pada konteks “jihad” di Madinah. Sehingga setiap ulama fikih yang mengulas bab jihad dalam karya mereka tidak lebih sebagai pembahasan terhadap peperangan (qitâl) dan harta rampasan perang (ghanîmah) bukan pembahasan yang sempurna tentang jihad.
Tidak ayal lagi, ghanîmah dan hasil-hasil lain yang diperoleh dari wilayah-wilayah yang ditaklukkan setelah peperangan seperti upeti, dan pajak (kharâj) menjadi fokus pembahasan pada ulama fikih. Menurut Muhammad Abid al-Jabiri hal ini disebabkan al-ghanîmah merupakan instrumen ekonomis bagi nalar politik Islam klasik di samping dua instrumen penting lainnya: kabilah dan akidah (2000: 16).
Melawan “Penguncian” Al-Quran
Dari pemaparan di atas, saya hendak menegaskan bahwa arti jihad adalah perjuangan bukan peperangan. Ia bisa mengalami evolusi sesuai dengan konteksnya. Qital hanyalah salah satu corak dari model jihad yang beragam. Sementara “penguncian” jihad pada makna peperangan merupakan modus penggerusan terhadap keragaman model jihad yang mesti dilawan.
Adapun mengenai ayat-ayat qital, sebagaimana menurut Gamal Al-Banna di atas, merupakan ayat-ayat “situasional”. Maksudnya adalah ayat-ayat sejenis ini tidak bisa dipisahkan dari situasi: sebab-musabab dan tujuan yang melahirkannya. Perang adalah keterpaksaan untuk mempertahankan diri (difâ’ an al-nafs), bukan kebringasan untuk melakukan penyerangan (al-hujûm).
Justeru perang pada era Rasulullah dilegalkan untuk mempertahankan prinsip kebebasan beragama (hurriyah al-‘aqîdah) yang dirongrong oleh kekuatan bersenjata. Bukan seperti dalih para kawanan teroris saat ini yang menggunakan jihad untuk memberhangus prinsip kebebasan beragama ataupun usaha untuk menebarkan bibit-bibit kebencian.
Sudah seharusnya kita melakukan pembebasan untuk melawan modus “penguncian” yang terjadi pada sebagian besar doktrin agama Islam khususnya doktrin jihad ini. Lebih-lebih lagi, doktrin ini sering dijadikan sebagai kekuatan dan penghalalan ideologi terorisme. Adapun “mengunci” jihad hanya pada makna peperangan, ataupun melayangkan sederet cap; kafir, musyrik, murtad, dan sesat secara membabi-buta hanya pada golongan non-muslim atau pada musuh politiknya, merupakan penafsiran yang sewenang-wenang atas nama Tuhan dan Al-Quran. Tuhan tidak butuh jihad ataupun qital agar Dia menjadi Mahakuasa. Pun Al-Quran adalah “kitab terbuka”. Siapapun berhak untuk memahami dan menafsirkan Al-Quran—tidak hanya sekedar membaca dan melagukannya saja. Namun tidak seorang pun memiliki hak dan sedikitpun otoritas untuk “mengunci” makna Al-Quran hanya pada penafsirannya saja.